I AM AJNABEE

" Kerja sambil piknik ya itu sudah menjadi bagian dari saya. Tidak akan ada cerita tanpa adanya perjalanan.. karena bagi saya ada jalan ya ada cerita.. kalau gak jalan ya tidak ada cerita..Simpel dan tidak pakai ribet.. semua jalani saja.."

Sebuah Surat dari Muridku, Samsul Zakaria (Sams)

My Smart Student, Sams....


A Letter to Mister

Rabu, 07 Maret 2012  

Assalāmu’alaikum, Mister! Rintikan hujan menemani malamku. Sementara hatiku terus terpenuhi butir-butir kerinduaan. Rindu saat di mana: aku dan teman-teman belajar bernyanyi bersama. Saat di mana kami mengenal pentingnya kebersamaan. Kebersamaan yang juga disertai oleh hadirnya Mr. di dalamnya. Seiring bertambahnya kata dalam surat ini, aku berdoa kepada Ilahi. Semoga rahmat dan kasih sayang-Nya terus menyelimuti kisah hidup Mr. dan Mbak Endri. Āmīn yā Rabb
Surat ini, aku tulis untuk memenuhi janji di facebook 2 hari yang lalu. Belakangan, Sir. Aku memang sering menulis surat. Baik untuk seorang yang telah menempati sebilah tanah di hatiku (hem!). Untuk seorang yang sedang menimba ilmu di negeri nun jauh di sana. Untuk temanku, yang belum lama ini aku kenal. Dan, malam ini, aku bertekad untuk menulis surat untukmu, Sir. Karenanya, wajar kalau surat ini aku beri judul “A Letter to Mister”. He,
Sebenarnya, aku mulai tertarik berkirim surat, sebelum aku membaca novel Magdalena. Ternyata novel tersebut didominasi oleh surat yang ditulis oleh Stevan kepada Magdalena, dan sebaliknya. Dengan bahasa yang mendayu-dayu, karena itulah khas dari sang pengarang, Musthafa Luthfi al-Manfaluthy. Aku terhanyut dalam rajutan katanya. Aku termenung lalu seolah berucap, “Sungguh indahnya cinta itu!” So sweet!
Ternyata, Sir, surat itu memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh ucapan. Surat bertutur akan kejujuran yang karenanya mengesampingkan “kebohongan”. Ini memang tidak mutlak. Namun bagiku, ketika menulis surat, maka pada saat itulah aku harus berkata yang apa adanya. Terbukti, surat yang aku tulis untuk seorang yang saya sebut pertama tadi, mampu membuatnya terpana dan terpesona. Itu karena dalam suratku, mengalir spirit yang sukar dilukiskan oleh kata-kata. He, (ini memang agak lebay!).
Mister, ketika aku berkunjung ke “persinggahanmu”, tiadalah aku jumpai dirimu. Aku tahu, dan Mr. juga tahu kenapa. Aku hanya bertemu dengan Mbak Endri. Kebetulan saat itu, ada Mahmud, yang katanya mau masak-masak di rumah Mr. Kala itu: aku, Amrullah, dan Reka, mengunjungi rumah yang berlokasi di Way Hui. Hem, for the first time coming there. Banyak cerita yang tergeming sore itu. Sayangnya, aku tidak punya waktu yang cukup. Pasalnya, aku harus segera bersiap-siap untuk menunggu bus di Way Halim. Jogja(ku) sudah menanti!
Asrama adalah bagian kehidupan yang tidak pernah terlupakan. Ia memberikan warna yang tak akan pernah luntur dimakan usia. Terus melekat dalam hati. Sukar terlupakan dan senantiasa terkenang. Teringat saat harus dihukum karena tidak “memakai” bahasa. Masih terngiang, drama petak umpet dengan Pak Jamsari, karena telat masuk sekolah. Sejuta kenangan terlukis kala itu. Di sebuah penjara suci yang bernama asrama MAN 1.
Satu hal terindah yang paling aku kenang dari Mr. Iya, itu adalah kata “Sams”. Beberapa teman, seperti Aziz, Agung, dan Yusuf, masih sering memanggilku dengan nama itu. Jujur, aku senang dengan panggilan itu, Sir. Dan tentu aku tidak akan pernah lupa. Orang yang pertama kali mengenalkannya dan menyematkannya padaku adalah Mr. Itu adalah kenangan luar biasa, bagiku. Semoga Allah menyediakan “reward” khusus, untuk Mr. terkait hal ini. Āmīn
Lagu yang salah satu liriknya, “I know I loved you before I meet you,” juga tidak lepas dari ingatan. Apalagi, terakhir Reka (si jago bahasa Inggris itu) mengingatkannya di group. Seolah aku terbang ke masa lalu: ingat saat kami menyanyikannya. Itu adalah lagu yang pertama kali kami pelajari. Ternyata belajar bahasa asing dengan bernyanyi memberikan nuansa yang berbeda. Karena berbeda, maka jauh dari rasa bosan. Dan akhirnya, kita terus antusias untuk mempelajarinya.
Ingat banget dech, pas Sams nyanyi lagi “Seal Over Seven Seas”, Umy Poppy langsung keluar dari “peraduaannya”. Hanya ada 2 kemungkinan tentang keluarnya Umy Poppy. Pertama, terheran dengan suara merdu yang tiada duanya (mungkin lebih tepatnya, tiada tandingnya). Kedua, terkejut kok malam-malam ada kaset dangdut rusak berbunyi! He. Untuk lebih jelasnya tentang hal ini memang harus klarifikasi kepada yang bersangkutan. Tapi yang jelas, aku menikmati banget pas menyanyikannya, Sir. Makasih dech udah ngajarin kami bernyanyi. Bukan sekadar oleh vokal, tapi juga olah rasa, dan olah hati plus oleh-oleh! (lho!?).
Oh ya, katanya sekarang Mr. tambah gemukan ya? He he. Inilah menurutku ciri-ciri keluarga bahagia. Semoga memang predikat keluarga yang sakīnah, mawaddah, wa rahmah, itu memang benar-benar layak disandang Mr. dan Mbak Endri. Āmīn… Oh ya, harus juga ditambah dengan barakah dan memiliki putra-putri yang shalih dan shalihah. Lengkap sudah dech. Itulah surga dunia.
Rasanya, tidak perlu terlalu panjang surat pertamaku ini. Surat ini kan masih bisa dilanjutkan di lain waktu. Malam ini, aku juga harus menggarap paper untuk seminar besok, Sir. Untuk mengawali “mood” nggarap “paper”, aku tulis dulu surat ini. Semoga “paper”-nya dapat terselesaikan dengan baik.
Sebelum mengakhiri surat ini, Sams punya sedikit anekdot. Ini Sams dapatkan dari inbox rutin di FB. Begini ceritanya. Suatu hari ada seorang pembeli yang marah-marah kepada penjual soto ayam. Pasalnya, soto yang disuguhkan sama sekali tidak mengandung ayam. Lalu sang penjual berdalih, “Jangan marah dulu, Pak! Orang beli “LEM TIKUS” itu emang ada tikusnya? Kan tidak!” Gubrak! He he. Semoga terhibur. Selamat menjalani dan menikmati hari-hari bahagia, Sir! Salam untuk Mbak Endri. Wassalāmu’alaikum

Ponpes UII DI Yogyakarta,

          Samsul Zakaria (Sams)

2 komentar:

  1. almost cry when the first time read it..... really touching my heart Sams...

    BalasHapus
  2. He he... So sweet ya...
    Syukurlah kalau begitu..

    BalasHapus