I AM AJNABEE

" Kerja sambil piknik ya itu sudah menjadi bagian dari saya. Tidak akan ada cerita tanpa adanya perjalanan.. karena bagi saya ada jalan ya ada cerita.. kalau gak jalan ya tidak ada cerita..Simpel dan tidak pakai ribet.. semua jalani saja.."

Antara Aku, Festival Teluk Semaka VII dan Media Sosial (Part.3 / Habis)

Walaaa... This is it,,,, Temen-temen Alumni generasi pertama D'Semaka Tour 2014

Ahh,,, akhirnya Tulisanku yang ini sudah di bagian ke-3, mudah-mudahan dari tulisan awal sampai yang ketiga ini, teman-temaan sudah mengikutinya yaaa,, hehehe…

Dibagian ketiga ini adalah akhir dari perjalanan D’Semaka Tour dalam rangkaian Festival Teluk Semaka VII, masih bersama Elvan dan Media Sosial yang tidak henti-hentinya berekspresi baik dalam foto-foto ataupun kata-kata yang terungkap dalam canda tawa ataupun celetukan yang seru. Ahh… aku jadi kepikiran, kenapa D’Semaka Tour ini Cuma tiga hari, kenapa juga gak seminggu biar bisa buat novel dengan tulisan-tulisan yang beragam he he he…
Bangun pagi hari tepatnya hari minggu 02 November 2014 masih di homestay Bp. Marhasan Samba. Badan masih terasa pegal-pegal, rasa bermalas-malasan dan tengkurap di atas lantai masih enggan bagi peserta untuk bersih-bersih diri padahal ini sudah jam 07.30 WIB dan perjalanan akan dimulai pukul 08.00 WIB. “ Ayooo semua peserta harus bersiap-siap karena pukul 08.00 perjalanan akan dimulai ke TNBBS, silahkan mandi dan mengantri biar cepat yaa?” aku mengingatkan para peserta untuk segera siap-siap. Ahh,, agak tepat waktu juga ni peserta, meskipun molor beberapa menit, peserta pun sudah kumpul dan aku siap mengabsen satu-persatu (maklumlah tanggung jawab coyyy).
Kira-kira pukul 08.30 WIB, kami semua sudah mulai melakukan perjalanan menuju Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Masih ditemani oleh Dinas Perhubungan Tanggamus yang setia mendampingi Perjalanan kami (Terima kasih Pak Derius, Bang Leo dkk ). Selama dalam perjalanan, sambil mengisi kekosongan, aku memberi tantangan kepada peserta untuk bisa menjadi tour guide di Tanggamus, walhasil Indra Pradya berhasil menjadi tour guide yang yaaaahhh oke juga hehehee.. bingkisan berupa T Shirt sudah aku persiapkan, lumayan untuk kenang-kenangan dari panitia. Tour guide yang bakalan heboh seandainya ini terjadi (tutup mata pake tangan).
Raflessia Arnoldi
Berfoto ris di Patok Seket
Kurang lebih satu jam perjalanan, sambil menikmati indahnya perjalanan yang sesekali berhenti untuk berfoto, akhirnya sampailah kami di lokasi TNBBS. Meskipun suasana panas, namun terasa sejuk karena dikelilingi oleh banyak pepohonan yang besar namun rindang. Ahh lagi-lagi peserta sudah tidak tahan lagi untuk berfoto ria. Lanjut ke lokasi berikutnya adalah kearah patok seket (patok ke 50) dimana dilokasi itu tumbuh tanaman Rafflessia Arnoldi yang sangat terkenal dan fenomenal. Ohh iyaa aku juga ternyata baru tau (pemirsa..hehe) ternyata Raflessia Arnoldi itu bukanlah bunga bangkai seperti yang dikatakan banyak orang, yang dikatakan sebagai bunga bangkai itu adalah tumbuhan Amorphopallus, sejenis tumbuhan talas-talasan gitu, sedangkan Raflessia Arnoldi itu adalah sejenin umbi/bonggol seperti tumbuhan kol namun hidupnya menempel di akar liana. Bunganya lebar dan besar, butuh berbulan-bulan untuk mekar, dan mekarnya pun kurang lebih seminggu dan setelah itu layu dan menghitam.
Ketika sampai di lokasi, ternyata bunga Raflessia Arnoldi sudah mekar kurang lebih satu minggu. Meskipun warnanya sudah mulai menghitam namun bentuk bunganya masih terlihat dengan jelas. Para peserta pun tidak mau ketinggalan untuk mengabadikan moment ini. Di damping oleh petugas dari TNBBS, Bp Kirno, kami semua dijelaskan mengenai segala macam tentang TNBBS, mulai dari patok skeet yang terkenal dengan sebutan Rhyno Camp, kemudian mengenai tumbuh-tumbuhan besar yang ada disana. Dan setelah itu kami diajak untuk melihat tanaman kantung semar.
Tumbuhan Kantung Semar
Tumbuhan kantung semar (genus nephentes ) adalah sejenis tumbuhan karnivora yang tumbuh di hutan tropis. Tumbuhan yang merambat ini memiliki bentuk yang unik yaitu kantung. Dengan kantung inilah berbagai macam binatang serangga yang sudah terperangkap ke kantung ini akan terjebak dan tidak biasa keluar lagi. Inilah yang menjadi mangsa dari tumbuhan ini. Cukup unik sekali dengan tanaman ini. Kami pun dijelaskan secara jelas oleh pemandu dari TNBBS, Bp. Kirno. Selain itu, kami dikenalkan dengan tumbuhan akar merah, dimana dari akar ini kita bisa meminum airnya yang bening dan segar. Kami semua satu persatu mencicipi air dari akar merah ini.
Sudah 2 jam lebih kami berada di TNBBS, kami tidak bisa menjelajahi seluruh objek yang ada di TNBBS ini seperti bumi perkemahan, air terjun atau yang lainnya karena kami memiliki waktu yang terbatas. Mengingat ada beberapa peserta yang berasal dari luar Lampung yang akan segera kembali ke alamat masing-masing (mana hayoo coba tunjuk tangan yang dari luar lampung,, baguussss Bu EVi hehehe).
Acara berikutnya adalah menuju SUPM Kota Agung, sekolah Umum Perikanan Menengah, salah satu sekolah yang memiliki atraksi luar biasa ketika karnaval budaya di The heritage of Tanggamus carnival. Makan siang yang sudah dipersiapkan panitia kami nikmati di areal SUPM Kota Agung. Sekolah yang terletak di tepi pantai itu sungguh indah dengan pemandangan pantai dan lautnya yang indah. Selain itu, terdapat bangunan kelas yang menyerupai bentuk kapal laut yang besar. Kami semua bersantap siang di tempat itu sambil berfoto-foto ria yang merupakan aktivitas yang tidak boleh ditinggalkan.
Pemandangan Teluk Semaka yang  indah dari puncak sedayu
Rangkaian acara demi acara dari hari pertama hingga hari terakhir sudah hampir selesai. Terlihat jelas di mata para peserta rasa lelah yang mendalam, namun mereka semua senang. Ada rasa sesal dan sedih karena kami semua akan segera mengakhiri acara ini. Terbayang dibenakku satu persatu wajah dari peserta D’Semaka Tour ini. Ya Allah… entah kapan lagi akan bertemu dengan mereka. Mungkin tahun depan jika memang masih ada kesempatan. Insya Allah..
D’Semaka Tour yang pertama kali ini dilakukan memang memberikan dampak positif yang luar biasa. Mereka tidak hanya selesai sampai disini dalam menjalin siltaurahmi. Melalui facebook, Twitter ataupun dalam tulisan blog mereka yang luar biasa, kami masih bisa saling sharing dan tukar pendapat atau hanya sekedar say hi kepada mereka. Terima kasih atas partisipasi dari teman-teman semua. Kalian adalah alumni D’Semaka Tour generasi pertama yang akan mengukir sejarah untuk membantu promosi pariwisata di kabupaten Tanggamus ini.
Aku tersenyum, aku lihat arloji di tangan, sudah pukul 23.30 WIB malam ini, aku akhiri tulisanku yang ketiga ini dengan puas. Selesai sudah bagian ketiga sebagai penutup dari perjalanan D’Semaka Tour ini. Kutatap langit-langit kamar, bayangan lereng Tanggamus, makan yang kehujanan, waylalaan, karnaval budaya hingga TNBBS satu persatu berlalu dari benakku. Ahh… ternyata hanya mimpi nyata yang sudah berlalu… grokkk grokkkk grokkk…..(dengkur kelelahan mulai terdengar mengejar pagi).

Thanks to :
Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Tanggamus
Pemerintah Kabupaten Tanggamus
Dinas Perhubungan Tanggamus
Mas Yudi di Sidokaton Gisting
Pokdarwis Waylalaan
TNBBS
SUPM
Bp. Marhasan Samba (Homestay)
Alumni generasi pertama D'Semaka Tour 2014
Panitia Festival Teluk Semaka 2014
Dan semua pihak yang sudah membantu..


















Antara Aku, Festival Teluk Semaka VII dan Media Sosial (Part 2)

Festival Teluk Semaka memasuki hari ke 2 bagi media social sebagai peserta Tour D’Semaka kali ini. Wahh ada kegiatan apalagi yaa untuk hari ke-2 ini?? Apakah sama seperti hari kemarin atau berbeda?
Yups.. semua kegiatan ada rundown acaranya atau istilah kerennya itu itinerary. Untuk hari ke-2 ini aktivitasnya ada tiga yaitu Pengetahan Adok, Karnaval Budaya yang kali ini bertemakan The Heritage of Tanggamus Culture and Khakot Carnival dan acara Semaka Sparkling Night.. woowww kerennn..

Suasana di dermaga Kota Agung
Seperti biasa di pagi hari sebelum mengikuti acara, para peserta tetep ada yang berjalan-jalan ke dermaga, yaa hanya sekedar jalan-jalan, melihat aktivitas nelayan ataupun mengumpulkan bahan untuk menulis di blog mereka. Tidak apa-apa yang penting kudu tetep on time yee… dengan gayanya yang bener – bener khas banget, mereka berjalan sambil membawa kamera yang gak pernah lepas dari kalungan di lehernya dan juga syal dan tas kecil mereka. “ permisi buu…” mereka menyapa ibu-ibu yang bersimpangan dengan mereka. Wahh ramah sekali mereka ini,,, diam-diam aku memperhatikan mereka, layaknya orang sedang
dikarantina untuk mengikuti sebuah pemilihan bakat. Hahaha… seru lahh pokoknyaa..
Aku gak mengikuti mereka ke dermaga, tugasku adalah mencari sarapan, yahh meskipun nasi uduk sebagai menu sarapan setiap pagi yang penting semua hepi. Inilah yang menjadi salah satu keunikan yang seperti diungkapakan oleh salah satu blogger di blognya, Mbak Melly Feyadin. Dia banyak melukiskan keunikan-keunikan selama mengikuti tour di Festival ini, salah satunya adalah makan uduk setiap pagi.. hehehe (gak papa ya mbk melly, yang penting kebersamaan,, kaceeeehhhh )
Pengantin Adok dibawa oleh para punggawa
Pukul 08.00 semua peserta sudah siap untuk menuju lokasi acara pertama yaitu Pengetahan Adok. Ini adalah aktivitas rutin yang selalu ada di setiap event Festival Teluk Semaka. Pengetahan Adok adalah pemberian gelar kehormatan kepada tokoh adat tertentu yang berdasarkan keputusan dari MPAL (Majelis Penyimbang Adat Lampung). Jadi kepada orang yang akan diberi gelar adat itu bisa berasal dari tokoh adat, pejabat ataupun para petinggi daerah. Dengan diberikannya gelar kehormatan ini, maka mereka akan menjadi tokoh yang menjadi panutan dalam masyarakat. Dalam Pengetahan adok kali Majelis Penyimbang Adat Lampung yang diketuai oleh Bp Rofiuddin memberikan gelar kepada dua tokoh pejabat di Kabupaten Tanggamus yaitu Ketua Pengadilan Tinggi, Bp. Idham Kholid, SH, MH sebagai Pengikhan Ya Sangun Ratu II dan Ketua Kejaksaan Negeri, Bp. Raffiudin, SH sebagai Pengikhan Ratu Marga. Mereka berpasangan dengan istri dan berpakaian layaknya pengantin.
Nah, ini dia nihh Para pengantin adok yang akan diberi gelar (Adok)
Prosesi dimulai dari rumah dinas Bupati Tanggamus, Bp Bambang Kurniawan ST. Segala persiapan dari mulai make up, pemakaian baju adat dan lain-lain berpusat di rumah dinas Bupati Tanggamus. Para pengiring arak-arakan sudah mulai menunggu di luar rumah, tepatnya di pinggir jalan. Mereka semua berpakaian adat berwarna-warni mulai dari baju pengantin, hadra, rebana, ada pula yang berpakaian sekura ( seseorang yang bertopeng yang biasanya muncul ketika ada perayaan-perayaan besar dan biasanya terdapat acara cakak buah/panjat pinang).
Iring-iringan rombongan pengiring beserta music-musik khas lampung sebagai tetabuhan sudah berjalan dari depan rumah dinas Bupati. Dua pasang pengantin sudah duduk diatas tandu kehormatan dan siap diangkat oleh para punggawa. Dengan diawali oleh dua orang pencak khakot sebagai pembuka jalan, para iring-iringan pengantin mulai berjalan menuju lokasi pengukuhan adok, yaitu di lapangan merdeka dimana disana sudah menunggu para tokoh adat dan Majelis Penyimbang Adat Lampung yang akan mengukuhkan gelar mereka.
Aksi Para Khakot Tanggamus
Acara yang memakan waktu kurang lebih 2 jam itu berjalan dengan khidmatnya. Satu demi satu prosesi sudah dijalani, pengukuhan dan pembacaan SK sudah dilaksanakan, maka sudah resmilah mereka mendapatkan gelar oleh Majelis Penyimbang Adat Lampung. Acara selanjutnya adalah makan siang yang bertempatkan di rumah dinas Bupati. Ada salah satu pengunjung yang berasal dari luar negeri yaitu paulina, dia berasal dari Polandia. Mahasiswi pertukaran pelajar di Universitas Lampung ini berkesempatan hadir mengikuti acara ini. Dengan didampingi oleh dua orang temannya, Ferry dan Fitri, mereka mengikuti acara ini hingga selesai dan mereka meminta izin untuk wawancara dengan Bupati Tanggamus, Bp. Bambang Kurniawan, ST. wawancara pun dilakukan di rumah dinas mengenai Festival Teluk Semaka ini secara global dan  dilanjutkan makan siang bersama.
Para Pencak Khakot siap beraksi
Pukul 13.30 WIB, acara kedua akan segera dilaksanakan, Karnaval Budaya dengan tema The Heritage of Tanggamus Culture and Khakot Carnival. Di dalam karnaval ini ditampilkan beragam etnis dan budaya yang ada di tanggamus. Diawali oleh drumband yang keren banget dari Sekolah Umum Perikanan Menengah (SUPM) dengan atraksinya yang luar biasa, membuat pembukaan karnaval ini semakin meriah. Kemudian dilanjutkan dengan penampilan 1000 orang penari pencak khakot. Pencak Khakot inilah yang menjadi icon dalam festival ini.
Pencak Khakot adalah tarian pencak yang bertujuan untuk pembuka jalan ketika ada rombongan atau iring-iringan tertentu agar perjalanan tidak mengalami hambatan. Misalnya ketika iring-iringan para pengantin adok yang berjalan dari rumah dinas Bupati akan menuju lokasi pengukuhan, maka penari pencak khakot berbaris di barisan paling depan sebagai barisan pembuka jalan dengan atraksi tari pencaknya. Begitu pula jika ada acara-acara yang lain yang sekiranya membutuhkan khakot demi lancarnya sebuah acara. Budaya pencak khakot inilah yang menjadi tema utama dalam festival ini, mengingat pencak khakot sudah berangsur-angsur menghilang dan hampir tidak ada generasi penerus. Maka dalam Festival ini, pencak khakot yang ada di Tanggamus ini kembali ditampilkan dengan 1000 orang peserta agar masyarakat pun tahu bahwasanya budaya pencak khakot ini masih ada dan perlu di lestarikan dan dikembangkan.
Drumband SUPM Tanggamus
Setelah penampilan drumband dan 1000 pencak, selanjutnya ada penampilan fashion show busana fantasi yang diperagakan oleh muli mekhanai kabupaten Tanggamus. Setelah itu penampilan bandrong, TTKDH, paguyuban sumatera barat, sumatera selatan, Sulawesi, barongsai, persatuan drumband Tanggamus tampil menghibur masyarakat Tanggamus dalam karnaval ini. Ribuan penonton memadati jalanan dan taman kota agung sebagai lokasi berjalannya acara karnaval ini. Semua penonton sangat terhibur dengan karnaval ini, cuaca yang panas terik tidak menghalangi mereka untuk menyaksikan acara ini. Bagaimana dengan para media social?? Woooww ternyata mereka sangat antusias dengan kameranya jeprat-jepret kesana kemari, yang berfoto-foto selfi pun gak ketinggalan, maklum karena ada lomba foto selfi juga yang diadakan oleh salah satu provider GSM ternama (Selamat buat Mbak Melly sebagai pemenangnya yaa heheee…dapet tablet cuyyyyy….)

Barongsai, Peserta Karnaval yang ikut serta
Karnaval budaya telah selesai, penonton mulai meninggalkan arena karnaval. Akupun kembali ke homestay bersama tamu-tamuku yang terhormat, para media social yang kucintai (cihuyy..). kami semua selonjoran kaki sambil rebahan. Betapa nikmatnya homestay yang sederhana ini untuk meluruskan kaki dari pegal-pegal setelah karnavall (hoaammm,, menguap lebarrr dan lupa menutup mulut..)

Hari ini acara tinggal satu lagi, acara puncak dengan bintang tamuu yang sudah gak asing lagi, Trio macan (dah ngomongnya biasa saja, gak perlu heboh kayak MC, hehee soalnya udah agak lelah). Pukul 19.30 WIB stelah makan malam, kami berjalan menuju Lapangan Merdeka untuk melihat acara puncak. Acara dibuka dengan tarian etnis kolosal, kemudian ada laser show (pertunjukan sinar laser yang memukau), pesta kembang api dan terakhir adalah penampilan Trio Macan yang menggoyang masyarakat tanggamus di lapangan merdeka malam itu. Meriah dan sukses adalah kata-kata yang pas diungkapkan dalam acara ini. Rangkaian acara yang berjalan lancar hingga malam puncak yang tenang tanpa huru-hara. Semua puas, begitupun aku…
Penampilan Trio Macan yang menghibur masyarakat Tanggamus
Saat kembali ke homestay, kutemukan para media social sudah rata antara kepala, badan dan kaki mereka sejajar di atas lantai. Rupanya mereka lelah sekali. Aku memandanginya satu persatu, ahh tidak ada yang sama, hehee,, namun terlihat jelas diwajah mereka rasa lelah yang begitu dalam seolah-olah aku bisa membaca fikiran mereka “besok akan kami taklukkan TNBBS, biarkan kami menutup mata kami sekarang, sudahlahh, kami akan tunjukkan bahwa besok tak ada lelah di antara kami, semangat- semangat….!!
Aku tersenyum sambil kumencari selah dimana aku bisa memposisikan badanku diatas lantai, aku juga ingin seperti mereka, namun apakah pikiranku juga sama seperti mereka? Mungkin pembaca sudah bisa menebak…
Bayangan mulai memudar, membaur dalam fikiran yang tak menentu… hingga lelap tak tertahankan lagi…. (bersambung)



ANTARA AKU, FESTIVAL TELUK SEMAKA VII DAN MEDIA SOSIAL

Aku..
Iya,, aku udah lama bener gak ngoret-ngoret diary online ku ini… harusnya kalau aku
dari dulu rajin menumpahkan segala bentuk catatan kegiatanku disini, mungkin sudah banyak orang yang tahu akan blog ku ini,, yaaah paling nggak mereka udah tau lah dengan ajnabeezone.blogspot.com yang berisi catatan-catatan kecil dari seorang Ajnabee seperti aku ini (masih nanya apa itu Ajnabee? Yahh baca sajalah di blog ku sebelum-sebelumnya ada kok penjelasan tentang Ajnabee itu apa)
Gairah menulisku kembali muncul dan bersemi bagaikan rafflessia arnoldi yang tidak setiap saat bisa mekar di akar liana. (ahhh gomball lahh…) awalnya begini :
Temen-temen media sosial yang seru dan kocak
Sebelum acara Festival Teluk Semaka VII dilaksanakan, kami semua panitia rapat besar dan selalu rapat (ya pasti lahh yaa namanya juga big event). Nah, singkat ceritanya setelah pembagian tugas dalam festival, aku ditunjuk sebagai koordinator untuk tamu-tamu special untuk kegiatan tour D’ Semaka yang tergolong dalam media social (cieeee.. fly fly fly). Awalnya aku berfikir, media social? Ngebayangin gimana orang-orang media social itu, yang pastinya dengan kameranya yang gede-gede, penampilannya yang ngasal terus juga bawaanya yang serius sambil bawa kameranya tanpa senyum dan minim berkata-kata. Ahh yasudahlahh namanya juga perintah,, jadi kudu dilaksanakan.
Bekerjasama dengan Global Futurindo Event Organizer yang Alhamdulillah selalu bergabung di setiap Event Festival Teluk Semaka, kami mengadakan penyeleksian peserta untuk ikut dalam D’Semaka Tour, yaitu melalui Email, Twitter dan Facebook. Pilih, pilih dan terus memilih akhirnya terpilihlah 40 orang peserta. Eddanss, padahal kuota nya kita Cuma 30 orang, kok jadi offside gini pesertanya.. tapi memang ini sudah gak bisa dipilih lagi, jadi ya mau tidak mau harus menerima peserta yang mirip banget dengan jumlah siswa sekolah dasar negeri dalam satu kelas (he..he..he..)
Tibalah dmna H-1 acara D’Semaka Tour yaitu hari kamis tanggal 30 Oktober 2014. Persiapan untuk peserta homestay sudah kami cek semua dari 2 rumah yang akan dipakai oleh para peserta. Alhamdulillahh sudah ready semua, namun semenjak malam itu terjadilah sesuatu yang bener-bener kami tidak inginkan, hal yang menyebalkan dan kalau dibiarkan berlama-lama bisa keluar tanduk kepalaku ini… MATI LAMPUUUUU…..!! lagi ada kegiatan besar seperti ini, PLN sedang dalam bermasalah pula, ada trouble dari pusat katanya, wadoohhh… mudah-mudahan gak lama. Memang bener gak lama si mati lampunya, tapi sering bener mati lampunya, udah seperti orang diare saja sehari bisa 7-10 kali mati. Tapi yaa harus gimana lagi,, untung masih ada genset (meskipun ngejerit juga siy beli bensinnya selama kegiatan berlangsung genset idup terus, 4 harii cuyyy) yang penting kegiatan lancar dan mulus kayak ulet sutera.
Malem itu peserta sudah ada yang mulai berdatangan yaitu  rombongan Fotografer Handal Lampung yaitu Mas Yopi, Rizki, Deri, Indraa, terus juga ada Halim (wuihh dia ini peserta paling jauh lhooo dari solo maann…) dan beberapa lagi peserta lainnya.
Beberapa jam kemudian, aku pun datang k homestay. Kebetulan aku dari Bandar lampung bareng juga sama dua orang peserta tour yang kebetulan berangkat malam itu juga, yaitu Ade Frima dan Imam Safruddy. Kamipun bergabung dengan para peserta lain, mulai bercerita ngalor ngidul dan ngulon wetan hingga kami tak sadarkan diri sampai pagi hari. Eitss sebelum peserta pada bangun, ada lagi peserta yang dateng jam 4 pagi loo dari Serang yaitu Mbak Nurul dan Suaminya (ciee cieee dikawal nihh yee…). Tak beraapa lama, para peserta yang lain pun berdatangan meskipun tidak semua peserta yang terse;eksi datang.
Sebelum tour pertama dilaksanakan pukul 08.30 WIB, para peserta jalan-jalan ke dermaga ke kota agung. Yaahh meskipun tidak ada di agenda, tapi biarlah mereka mencari inspirasi untuk bahan blog mereka, walhasil aku sudah membaca salah satu hasil tulisan mereka yang bagus banget yaitu buah karya mbak yang unik, lucu, ramah dan penuh kecerian. Dia adalah Mbak Melly Feyadin… yeyeyeye (prokk prokkk….. silahkan maju ke depan dan kerjakan soal di papan tulis, hehe..)
We-o-we banget kan pemandangan dari lereng gunung Tanggamus,,,
Pukul 08.00 WIB, semua peserta sudah bersiap-siap. Tujuan pertama tour hari itu adalah ke lereng gunung Tanggamus. Ini adalah salah satu wisata minat khusus bagi para wisatawan, karena tidak semua orang suka berpetualang dan mendaki gunung. Perjalanan pun dimulai setelah semua peserta lengkap dan cek kehadiran sudah dilaksanakan. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti tour ini terbukti dari wajah mereka yang tak henti-hentinya menatap ke luar kaca bis melihat pemandangan menuju lereng gunung Tanggamus. Sesekali diantara mereka ada yang mengambil gambar selama dalam perjalanan, luar biasa kann? Yaiyalahhh….
Perjalanan mendaki lereng Tanggamus
Kurang lebih 30 menit perjalanan  dan kamipun sampai di desa Sidokaton kecamatan Gisting, dimana lewat desa itulah kami akan mendaki lereng gunung Tanggamus. Kami di damping oleh pemandu dari daerah setempat yaitu Mas Yudi dan Bapak Kepala yang juga ikut mendampingiDesaSatu persatu aku memperhatikan para peserta, mereka sangat semangat berjalan kaki mendaki sambil jeprat-jepret alam sekitar. Begitu indah panorama ketika mendaki lereng gunung Tanggamus, bener-bener pemandangan langka yang jarang ditemui di perkotaan. Di kanan dan kiri jalan, tampaklah tanaman kol, cabai, tomat dan tanaman sayuran lain yang begitu indah dan sedap dipandang mata. Memang sudah sangat terkenal kalau daerah Gisting ini adalah daerah penghasil sayuran yang sudah dijual kemana-mana hasil dari para petani sayuran ini.
Beberapa menit berlalu, aku lihat para peserta sudah mulai ngos-ngosan dan pegang-pegang lutut sambil menanjak…(hehehe termasuk yang nulis ini juga siyy). Lelah, haus dan lapar pun mulai menyerang, saat kami berhenti sejenak untuk istirahat, ternyata disekitar situ banyak pohon papaya yang sedang mateng-matengnya dan siap untuk disantap. Hahaiii…. Gak peduli akan situasi dan kondisi, papaya yang ternyata mateng tapi masih keras itu habis juga disantap. Perjalanan pun berlanjut menuju basecamp, dimana tempat itu digunakan oleh para pendaki yang biasanya mendaki untuk bermalam, mendirikan tenda ataupun sekedar beristirahat.
Jeprat- jepret peserta dari lereng Tanggamus memang gak bisa ditahan-tahan lagi. Lelah memang, namun kapan lagi bisa berwisata ke Tanggamus, hingga ada satu peserta yang memang sudah tidak kuat lagi mendaki, sebut saja Ibu Evi Indrawanto dari Jakarta. Dan beliaupun bersitirahat sambil menunggu kami mendaki. Ditemani oleh salah satu patroli dari Dinas Perhubungan Kabupaten Tanggamus, Ibu Evi pun beristirahat dibawah pepohonan yang rindang di lereng Gunung Tanggamus.
Tak berapa lama kamipun sampai di area basecamp. Wuihhh sebuah padang yang luas dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Rerumputan liar tumbuh dimana-mana memberikan kesan alaminya lereng gunung Tanggamus itu. Megahnya gunung tanggamus menantang jelas di depan mata, gagah dan kokoh. Duduk bersantai di area basecamp membuat para peserta ngantuk dan kelelahan, namun tidak ada rasa penyesalan di wajah mereka untuk mengikuti kegiatan ini. Naik turun bukit dan jalanan setapak tak membuat mereka menyerah untuk mendapat hasil foto dan bahan catatan yang menarik bagi mereka.
Perkebunan Kol yang subur
Jam makan siang sudah terlewati, namun mereka harus menuruni kembali bukit dan jalanan temurun untuk makan siang yang luar biasa istimewanya. Mereka akan makan di alam terbuka yaitu ditengah-tengah perkebunan kol yang subur. Ini jarang sekali terjadi (pemirsa hehe). Satu persatu peserta hadir di areal santap siang yang cukup sederhana. Dengan alas dari tarub karung, makanan disiapkan di atas hamparan daun pisang memanjang, ikan, sambel, sayur asem, lalapan dan kerupuk menjadi santapan yang sangat istimewa siang itu. Satu, dua, tigaa….. nasi, lauk dan sayuran sudah berada tepat dihadapan mereka dan tanpa komando lagi, sesuap dua suap nasi pun sudah memenuhi mulut dan masuk kedalam perut.
Makan Siang sebelum kejadian itu datang....
Namun, rencana tak seindah suasana dan tak seenak sayur asem dan ikan bakar yang yang mereka santap. Mendung yang menyelimuti awan rupanya tak kuasa menahan beratnya butir-butir air hujan yang menempel di gumpalan-gumpalan awan itu dan pada akhirnya secara cepat sekali hujan pun turun membuyarkan suasana makan siang yang memang kejadian ini benar-benar di luar skenario panitia. Pontang panting menyelamatkan diri dari air hujan. Ada yang berlari mencari tempat berteduh sambil membawa makanan yang belum habis, kamera dan barang-barang berharga lain pun berhasil mereka selamatkan. Salah satu peserta yang cukup unik, dia menyelamatkan ke handphone dan kamera ke dalam underwear nya, sedangkan tangannya sibuk memegang makanan dan pete sebagai lalapannya. Hahaaa,, memang aneh peserta yang satu ini, Indra namanya (ahh indra lagi,, aku belom cerita ya soal peserta unik yang satu ini, tunggu saja..). Hujan tetaplah hujan, belum mau berhenti membasahi makanan yang belum sempat terselamatkan, sayur asam jadi bertambah kuahnya, nasi, piring, lalapan semuanya kembali segar terkena curahan air hujan. Kami semua memandanginya dengan pandangan geli dan penuh rasa tak percaya.
Hujan sudah mulai mereda tapi gerimis masih belum beranjak. Kami tidak bisa bertahan lama berdiri berdesak-desakan di bawah pohon, di gubuk yang seadanya dan ada pula yang basah-basahan tidak kebagian tempat berteduh, kami diajak menuju ke rumah Pak Kepala Desa untuk beristirahat dan bersantai disana sambil minum kopi. Wahh memang luar biasa pengalaman ini.
Singkat cerita kamipun sudah sampai di rumah Kepala Desa. Sampai disana ternyata kami disediakan kembali makan siang yang sebelumnya mengalami kegagalan (hahaha). Dengan menu yang sama dan porsi yang gak kalah banyak, semua tak menyia-nyiakan kesempatan ini (kapan lagi merepotkan Kepala Desa) hehe..
Air Terjun Waylalaan hasil Jepretan Ade Frima
Pukul 15.00 WIB, seluruh peserta sudah siap kembali ke bis. Tujuan kamu selanjutnya adalah ke Air Terjun Way Lalaan. Salah satu destinasi wisata yang ada di Kabupaten Tanggamus dengan dua air terjunnya yang memukau dan alam sekelilingnya di hiasi dengan bebatuan alam yang eksotis. Lokasinya tidak begitu jauh dari jalan raya, sekitar 10 meter dari gerbang masuk Air Terjun WayLalaan. Dengan areal parker yang luas dan banyak pohon-pohon yang rindang. Untuk menuju lokasi air terjun yang pertama, kita akan menuruni anak tangga yang sudah ada dari zaman belanda yang hingga kini masih terawat dengan baik.

Para peserta sangat semangat menuju air terjun Way Lalaan, karena sebenernya panitia sudah menyiapkan buah durian buat mereka semua secara gratis. Meskipun kondisi badan sangat capek dan lelah namun karena mereka sudah dijanjikan makan durian sepuasnya dan gratis, mereka pun sumringah (Ssstt… sebenernya durennya itu gak gratis tauu, panitia yang merogoh kocek seharga 600ribu untuk semua duren-duren itu,, hadehhh, tapi diem-diem aja yaa, gak enak ama peserta…)
Menuruni tangga-tangga air terjun waylalaan membuat para peserta takjub dengan keadaan sekitar. Tangga-tangga peninggalan zaman dulu masih terawatt dengan baik. Konon, menurut cerita tak seorang pun bisa menebak dengan tepat berapa anak tangga menuju air terjun itu. Banyak orang yang mencoba menghitung namun hasilnya tidak akan pernah sama jumlah dari anak tangga itu. Sungguh unik namun sedikit misterius. Entahlah…
Sudah puas dengan berkelana di Air terjun yang pertama, para peserta pun diajak pengelola menuju air terjun yang ke-2. Dengan mendaki bukit kurang lebih 200 meter, para peserta merasakan perjalanan agak sedikit ekstrim. Jalanan yang curam dan sangat berhati-hati biar tidak terpeleset. Ketika sampai di air terjun ke-2,, semua merasa kagum akan keindahan air terjun. Dengan ketinggian kurang lebih 25 meter, air terjun itu mengalirkan air nya dengan deras namun tetap tenang. Jeprat-jepret kamera dan selfi peserta tidak henti-hentinya dilakukan bagaikan sebuah ritual yang memang tidak bisa di hentikan lagi. Ada pula yang berenang dengan serunya… wow it’s absolutely amazing.
Kurang lebih satu jam berada di Air Terjun Way Lalaan baik yang pertama ataupun yang kedua, para peserta sudah tidak sabar lagi untuk menyantap durian karena waktu sudah mulai sore. Melalui jalur evakuasi yang cukup terjal dan ekstrim, peserta merasa tertantang dan menegangkan melalui jalur itu. Namun tak berapa lama sampailah mereka kembali dimana parkir mobil berada. Dan disanapun sudah menanti puluhan durian yang siap dibelah,, (hahahaaii belah duren,,) sikaaaattttt…..
Kekenyangan duren,,,, itu kulit duren kenapa masih pada nyisa yaa?
Para peserta tersenyum puas setelah menikmati buah durian yang sudah aku janjikan. Luar biasa mereka memang tamu-tamu istimewaku dalam festival ini. Aku bersyukur atas nikmat ini, bisa kenal dengan mereka yang sebelumnya aku menganggap ahhh media social yang bikin ribut dan hanya bisa protes sana dan sini. Ternyata aku salah,, mereka tidak satupun yang seperti itu, semua keadaan dapat mereka maklumi selama kebersamaan tetap terjalin dengan baik dan hangat. Sehangat sinar Matahari mulai lelah dan mengantuk, lewat sinarnya yang meredup kekuningan sedikit demi sedikit memantulkan cahayanya ke langit. Hingga perlahan-lahan sinar itupun hanya sekelebat cahaya yang memudar dan hilang menandakan selimut malam kan segera hadir.
Aku menatap langit, masih kulihat awan putih lewat pantulan mentari senja. Senyum awan itu menyegarkan atas lelahku, tiupan angin yang menggerakkan awan itu seolah-olah berkata kepadaku “Selamat dan sukses van atas hari ini… aku mengawasimu sejak pagi”. Aku tersenyum…
Tour D’Semaka hari pertama sudah berakhir… (bersambung)