I AM AJNABEE

" Kerja sambil piknik ya itu sudah menjadi bagian dari saya. Tidak akan ada cerita tanpa adanya perjalanan.. karena bagi saya ada jalan ya ada cerita.. kalau gak jalan ya tidak ada cerita..Simpel dan tidak pakai ribet.. semua jalani saja.."

ANTARA AKU, FESTIVAL TELUK SEMAKA VII DAN MEDIA SOSIAL

Aku..
Iya,, aku udah lama bener gak ngoret-ngoret diary online ku ini… harusnya kalau aku
dari dulu rajin menumpahkan segala bentuk catatan kegiatanku disini, mungkin sudah banyak orang yang tahu akan blog ku ini,, yaaah paling nggak mereka udah tau lah dengan ajnabeezone.blogspot.com yang berisi catatan-catatan kecil dari seorang Ajnabee seperti aku ini (masih nanya apa itu Ajnabee? Yahh baca sajalah di blog ku sebelum-sebelumnya ada kok penjelasan tentang Ajnabee itu apa)
Gairah menulisku kembali muncul dan bersemi bagaikan rafflessia arnoldi yang tidak setiap saat bisa mekar di akar liana. (ahhh gomball lahh…) awalnya begini :
Temen-temen media sosial yang seru dan kocak
Sebelum acara Festival Teluk Semaka VII dilaksanakan, kami semua panitia rapat besar dan selalu rapat (ya pasti lahh yaa namanya juga big event). Nah, singkat ceritanya setelah pembagian tugas dalam festival, aku ditunjuk sebagai koordinator untuk tamu-tamu special untuk kegiatan tour D’ Semaka yang tergolong dalam media social (cieeee.. fly fly fly). Awalnya aku berfikir, media social? Ngebayangin gimana orang-orang media social itu, yang pastinya dengan kameranya yang gede-gede, penampilannya yang ngasal terus juga bawaanya yang serius sambil bawa kameranya tanpa senyum dan minim berkata-kata. Ahh yasudahlahh namanya juga perintah,, jadi kudu dilaksanakan.
Bekerjasama dengan Global Futurindo Event Organizer yang Alhamdulillah selalu bergabung di setiap Event Festival Teluk Semaka, kami mengadakan penyeleksian peserta untuk ikut dalam D’Semaka Tour, yaitu melalui Email, Twitter dan Facebook. Pilih, pilih dan terus memilih akhirnya terpilihlah 40 orang peserta. Eddanss, padahal kuota nya kita Cuma 30 orang, kok jadi offside gini pesertanya.. tapi memang ini sudah gak bisa dipilih lagi, jadi ya mau tidak mau harus menerima peserta yang mirip banget dengan jumlah siswa sekolah dasar negeri dalam satu kelas (he..he..he..)
Tibalah dmna H-1 acara D’Semaka Tour yaitu hari kamis tanggal 30 Oktober 2014. Persiapan untuk peserta homestay sudah kami cek semua dari 2 rumah yang akan dipakai oleh para peserta. Alhamdulillahh sudah ready semua, namun semenjak malam itu terjadilah sesuatu yang bener-bener kami tidak inginkan, hal yang menyebalkan dan kalau dibiarkan berlama-lama bisa keluar tanduk kepalaku ini… MATI LAMPUUUUU…..!! lagi ada kegiatan besar seperti ini, PLN sedang dalam bermasalah pula, ada trouble dari pusat katanya, wadoohhh… mudah-mudahan gak lama. Memang bener gak lama si mati lampunya, tapi sering bener mati lampunya, udah seperti orang diare saja sehari bisa 7-10 kali mati. Tapi yaa harus gimana lagi,, untung masih ada genset (meskipun ngejerit juga siy beli bensinnya selama kegiatan berlangsung genset idup terus, 4 harii cuyyy) yang penting kegiatan lancar dan mulus kayak ulet sutera.
Malem itu peserta sudah ada yang mulai berdatangan yaitu  rombongan Fotografer Handal Lampung yaitu Mas Yopi, Rizki, Deri, Indraa, terus juga ada Halim (wuihh dia ini peserta paling jauh lhooo dari solo maann…) dan beberapa lagi peserta lainnya.
Beberapa jam kemudian, aku pun datang k homestay. Kebetulan aku dari Bandar lampung bareng juga sama dua orang peserta tour yang kebetulan berangkat malam itu juga, yaitu Ade Frima dan Imam Safruddy. Kamipun bergabung dengan para peserta lain, mulai bercerita ngalor ngidul dan ngulon wetan hingga kami tak sadarkan diri sampai pagi hari. Eitss sebelum peserta pada bangun, ada lagi peserta yang dateng jam 4 pagi loo dari Serang yaitu Mbak Nurul dan Suaminya (ciee cieee dikawal nihh yee…). Tak beraapa lama, para peserta yang lain pun berdatangan meskipun tidak semua peserta yang terse;eksi datang.
Sebelum tour pertama dilaksanakan pukul 08.30 WIB, para peserta jalan-jalan ke dermaga ke kota agung. Yaahh meskipun tidak ada di agenda, tapi biarlah mereka mencari inspirasi untuk bahan blog mereka, walhasil aku sudah membaca salah satu hasil tulisan mereka yang bagus banget yaitu buah karya mbak yang unik, lucu, ramah dan penuh kecerian. Dia adalah Mbak Melly Feyadin… yeyeyeye (prokk prokkk….. silahkan maju ke depan dan kerjakan soal di papan tulis, hehe..)
We-o-we banget kan pemandangan dari lereng gunung Tanggamus,,,
Pukul 08.00 WIB, semua peserta sudah bersiap-siap. Tujuan pertama tour hari itu adalah ke lereng gunung Tanggamus. Ini adalah salah satu wisata minat khusus bagi para wisatawan, karena tidak semua orang suka berpetualang dan mendaki gunung. Perjalanan pun dimulai setelah semua peserta lengkap dan cek kehadiran sudah dilaksanakan. Para peserta sangat antusias dalam mengikuti tour ini terbukti dari wajah mereka yang tak henti-hentinya menatap ke luar kaca bis melihat pemandangan menuju lereng gunung Tanggamus. Sesekali diantara mereka ada yang mengambil gambar selama dalam perjalanan, luar biasa kann? Yaiyalahhh….
Perjalanan mendaki lereng Tanggamus
Kurang lebih 30 menit perjalanan  dan kamipun sampai di desa Sidokaton kecamatan Gisting, dimana lewat desa itulah kami akan mendaki lereng gunung Tanggamus. Kami di damping oleh pemandu dari daerah setempat yaitu Mas Yudi dan Bapak Kepala yang juga ikut mendampingiDesaSatu persatu aku memperhatikan para peserta, mereka sangat semangat berjalan kaki mendaki sambil jeprat-jepret alam sekitar. Begitu indah panorama ketika mendaki lereng gunung Tanggamus, bener-bener pemandangan langka yang jarang ditemui di perkotaan. Di kanan dan kiri jalan, tampaklah tanaman kol, cabai, tomat dan tanaman sayuran lain yang begitu indah dan sedap dipandang mata. Memang sudah sangat terkenal kalau daerah Gisting ini adalah daerah penghasil sayuran yang sudah dijual kemana-mana hasil dari para petani sayuran ini.
Beberapa menit berlalu, aku lihat para peserta sudah mulai ngos-ngosan dan pegang-pegang lutut sambil menanjak…(hehehe termasuk yang nulis ini juga siyy). Lelah, haus dan lapar pun mulai menyerang, saat kami berhenti sejenak untuk istirahat, ternyata disekitar situ banyak pohon papaya yang sedang mateng-matengnya dan siap untuk disantap. Hahaiii…. Gak peduli akan situasi dan kondisi, papaya yang ternyata mateng tapi masih keras itu habis juga disantap. Perjalanan pun berlanjut menuju basecamp, dimana tempat itu digunakan oleh para pendaki yang biasanya mendaki untuk bermalam, mendirikan tenda ataupun sekedar beristirahat.
Jeprat- jepret peserta dari lereng Tanggamus memang gak bisa ditahan-tahan lagi. Lelah memang, namun kapan lagi bisa berwisata ke Tanggamus, hingga ada satu peserta yang memang sudah tidak kuat lagi mendaki, sebut saja Ibu Evi Indrawanto dari Jakarta. Dan beliaupun bersitirahat sambil menunggu kami mendaki. Ditemani oleh salah satu patroli dari Dinas Perhubungan Kabupaten Tanggamus, Ibu Evi pun beristirahat dibawah pepohonan yang rindang di lereng Gunung Tanggamus.
Tak berapa lama kamipun sampai di area basecamp. Wuihhh sebuah padang yang luas dengan pemandangan yang luar biasa indahnya. Rerumputan liar tumbuh dimana-mana memberikan kesan alaminya lereng gunung Tanggamus itu. Megahnya gunung tanggamus menantang jelas di depan mata, gagah dan kokoh. Duduk bersantai di area basecamp membuat para peserta ngantuk dan kelelahan, namun tidak ada rasa penyesalan di wajah mereka untuk mengikuti kegiatan ini. Naik turun bukit dan jalanan setapak tak membuat mereka menyerah untuk mendapat hasil foto dan bahan catatan yang menarik bagi mereka.
Perkebunan Kol yang subur
Jam makan siang sudah terlewati, namun mereka harus menuruni kembali bukit dan jalanan temurun untuk makan siang yang luar biasa istimewanya. Mereka akan makan di alam terbuka yaitu ditengah-tengah perkebunan kol yang subur. Ini jarang sekali terjadi (pemirsa hehe). Satu persatu peserta hadir di areal santap siang yang cukup sederhana. Dengan alas dari tarub karung, makanan disiapkan di atas hamparan daun pisang memanjang, ikan, sambel, sayur asem, lalapan dan kerupuk menjadi santapan yang sangat istimewa siang itu. Satu, dua, tigaa….. nasi, lauk dan sayuran sudah berada tepat dihadapan mereka dan tanpa komando lagi, sesuap dua suap nasi pun sudah memenuhi mulut dan masuk kedalam perut.
Makan Siang sebelum kejadian itu datang....
Namun, rencana tak seindah suasana dan tak seenak sayur asem dan ikan bakar yang yang mereka santap. Mendung yang menyelimuti awan rupanya tak kuasa menahan beratnya butir-butir air hujan yang menempel di gumpalan-gumpalan awan itu dan pada akhirnya secara cepat sekali hujan pun turun membuyarkan suasana makan siang yang memang kejadian ini benar-benar di luar skenario panitia. Pontang panting menyelamatkan diri dari air hujan. Ada yang berlari mencari tempat berteduh sambil membawa makanan yang belum habis, kamera dan barang-barang berharga lain pun berhasil mereka selamatkan. Salah satu peserta yang cukup unik, dia menyelamatkan ke handphone dan kamera ke dalam underwear nya, sedangkan tangannya sibuk memegang makanan dan pete sebagai lalapannya. Hahaaa,, memang aneh peserta yang satu ini, Indra namanya (ahh indra lagi,, aku belom cerita ya soal peserta unik yang satu ini, tunggu saja..). Hujan tetaplah hujan, belum mau berhenti membasahi makanan yang belum sempat terselamatkan, sayur asam jadi bertambah kuahnya, nasi, piring, lalapan semuanya kembali segar terkena curahan air hujan. Kami semua memandanginya dengan pandangan geli dan penuh rasa tak percaya.
Hujan sudah mulai mereda tapi gerimis masih belum beranjak. Kami tidak bisa bertahan lama berdiri berdesak-desakan di bawah pohon, di gubuk yang seadanya dan ada pula yang basah-basahan tidak kebagian tempat berteduh, kami diajak menuju ke rumah Pak Kepala Desa untuk beristirahat dan bersantai disana sambil minum kopi. Wahh memang luar biasa pengalaman ini.
Singkat cerita kamipun sudah sampai di rumah Kepala Desa. Sampai disana ternyata kami disediakan kembali makan siang yang sebelumnya mengalami kegagalan (hahaha). Dengan menu yang sama dan porsi yang gak kalah banyak, semua tak menyia-nyiakan kesempatan ini (kapan lagi merepotkan Kepala Desa) hehe..
Air Terjun Waylalaan hasil Jepretan Ade Frima
Pukul 15.00 WIB, seluruh peserta sudah siap kembali ke bis. Tujuan kamu selanjutnya adalah ke Air Terjun Way Lalaan. Salah satu destinasi wisata yang ada di Kabupaten Tanggamus dengan dua air terjunnya yang memukau dan alam sekelilingnya di hiasi dengan bebatuan alam yang eksotis. Lokasinya tidak begitu jauh dari jalan raya, sekitar 10 meter dari gerbang masuk Air Terjun WayLalaan. Dengan areal parker yang luas dan banyak pohon-pohon yang rindang. Untuk menuju lokasi air terjun yang pertama, kita akan menuruni anak tangga yang sudah ada dari zaman belanda yang hingga kini masih terawat dengan baik.

Para peserta sangat semangat menuju air terjun Way Lalaan, karena sebenernya panitia sudah menyiapkan buah durian buat mereka semua secara gratis. Meskipun kondisi badan sangat capek dan lelah namun karena mereka sudah dijanjikan makan durian sepuasnya dan gratis, mereka pun sumringah (Ssstt… sebenernya durennya itu gak gratis tauu, panitia yang merogoh kocek seharga 600ribu untuk semua duren-duren itu,, hadehhh, tapi diem-diem aja yaa, gak enak ama peserta…)
Menuruni tangga-tangga air terjun waylalaan membuat para peserta takjub dengan keadaan sekitar. Tangga-tangga peninggalan zaman dulu masih terawatt dengan baik. Konon, menurut cerita tak seorang pun bisa menebak dengan tepat berapa anak tangga menuju air terjun itu. Banyak orang yang mencoba menghitung namun hasilnya tidak akan pernah sama jumlah dari anak tangga itu. Sungguh unik namun sedikit misterius. Entahlah…
Sudah puas dengan berkelana di Air terjun yang pertama, para peserta pun diajak pengelola menuju air terjun yang ke-2. Dengan mendaki bukit kurang lebih 200 meter, para peserta merasakan perjalanan agak sedikit ekstrim. Jalanan yang curam dan sangat berhati-hati biar tidak terpeleset. Ketika sampai di air terjun ke-2,, semua merasa kagum akan keindahan air terjun. Dengan ketinggian kurang lebih 25 meter, air terjun itu mengalirkan air nya dengan deras namun tetap tenang. Jeprat-jepret kamera dan selfi peserta tidak henti-hentinya dilakukan bagaikan sebuah ritual yang memang tidak bisa di hentikan lagi. Ada pula yang berenang dengan serunya… wow it’s absolutely amazing.
Kurang lebih satu jam berada di Air Terjun Way Lalaan baik yang pertama ataupun yang kedua, para peserta sudah tidak sabar lagi untuk menyantap durian karena waktu sudah mulai sore. Melalui jalur evakuasi yang cukup terjal dan ekstrim, peserta merasa tertantang dan menegangkan melalui jalur itu. Namun tak berapa lama sampailah mereka kembali dimana parkir mobil berada. Dan disanapun sudah menanti puluhan durian yang siap dibelah,, (hahahaaii belah duren,,) sikaaaattttt…..
Kekenyangan duren,,,, itu kulit duren kenapa masih pada nyisa yaa?
Para peserta tersenyum puas setelah menikmati buah durian yang sudah aku janjikan. Luar biasa mereka memang tamu-tamu istimewaku dalam festival ini. Aku bersyukur atas nikmat ini, bisa kenal dengan mereka yang sebelumnya aku menganggap ahhh media social yang bikin ribut dan hanya bisa protes sana dan sini. Ternyata aku salah,, mereka tidak satupun yang seperti itu, semua keadaan dapat mereka maklumi selama kebersamaan tetap terjalin dengan baik dan hangat. Sehangat sinar Matahari mulai lelah dan mengantuk, lewat sinarnya yang meredup kekuningan sedikit demi sedikit memantulkan cahayanya ke langit. Hingga perlahan-lahan sinar itupun hanya sekelebat cahaya yang memudar dan hilang menandakan selimut malam kan segera hadir.
Aku menatap langit, masih kulihat awan putih lewat pantulan mentari senja. Senyum awan itu menyegarkan atas lelahku, tiupan angin yang menggerakkan awan itu seolah-olah berkata kepadaku “Selamat dan sukses van atas hari ini… aku mengawasimu sejak pagi”. Aku tersenyum…
Tour D’Semaka hari pertama sudah berakhir… (bersambung)




12 komentar:

  1. Balasan
    1. Maksiyyy Mbak Donna,,,, wahh jadi semangat ni ngeblog..... hahaa

      Hapus
  2. Mantaabs... Curahan hati seorang koordinator social media group. Hahaha. Btw, kalimat pamungkasnya bikin merinding euy, "aku mengawasimu..."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiyy mbk nurullll,,, hhehee besok2 aku mau nerbitin buku juga nihh kayak mbk nurul jugaa.... asekkk kalimat pamungkas yang merinding yaaaaa

      Hapus
  3. Hahaha keren gini tulisannya, Mas Elvan....Jadi 600 rb untuk duren itu semua? Pantesan enak rasanya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaa,,, iyaa Bu Evi,,, enak kan buuu,,,, jadi wajar kan yaa kalau tiap pagi makannya uduk, budgetnya lari ke duren bu hihihiii....... lagi belajar nulis buu...

      Hapus
  4. wihh si abang tayank makin keren aja blognya.. jadi semangat belajar nyoret-nyoret,, tar ajarin ya bang.. :D :')

    BalasHapus
  5. Eh eh ada pembahasan nama ku yaa???

    BalasHapus
    Balasan
    1. bang Indraa iyaa sii tadinya mau ada sedikit pembahasan di segmen berikutnya,,, tapii lupaaa,,, sampai segmen terakhir (ke3) hahahaa,,,,, tenang ajaa Bang,,, tetap jadi memori yang heboh dan lucu kok diantara kita semua hehee..

      Hapus
  6. Eh, perasaan kemarin2 udah komen disini, kok ga ada yaaaa..haha
    kayaknya ilang ditelan koneksi inet yg error..hehe

    Makasih ya Mas Hanung, sudah mengundang kami semua, kebersamaan di festival kemarin emg berkesan..
    Makasih jg lhooo nama sy disebut2, dipuji2 pula..hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaaa,,,, pantesan kok telat komen yaa mbk hihii...... iyaa mbk makasih jugaa yaa sudah meramaikan berita di media dengan blog-blog yang positif... tunggu undangan tahun depan yaa.. tetap terus berkaryaa

      Hapus