I AM AJNABEE

" Kerja sambil piknik ya itu sudah menjadi bagian dari saya. Tidak akan ada cerita tanpa adanya perjalanan.. karena bagi saya ada jalan ya ada cerita.. kalau gak jalan ya tidak ada cerita..Simpel dan tidak pakai ribet.. semua jalani saja.."

MIMPI BURUK SEBELUM TRAGEDI LAGUNA GAYAU




Segarnya berenang di Laguna Gayau
Laguna Gayau…
Ahh sebuah tempat favorit saya ketika mengunjungi Teluk Kiluan di Kelumbayan, Tanggamus. Memang lokasinya begitu menantang karena harus menaiki bukit dan menuruni turunan. Itu pun belum selesai karena kita harus merangkak batu-batu karang menuju Lokasi laguna gayau. Saya memang sering sekali memandu para pengunjung untuk berwisata ke Teluk Kiluan termasuk mengunjungi laguna gayau. Tepat satu hari sebelum tragedi di Laguna Gayau terjadi, saya memang mengantarkan tamu dari Palembang yang kebetulan sedang trip ke Pahawang dan Teluk Kiluan. Keadaan cuaca dan laut pada hari itu (sabtu, 16 Juli 2016) sungguh cerah dan teduh di Laguna gayau pada sekitar pukul 10.30 WIB karena kami melakukan Dolphin Tour dulu di pagi hari, sebuah aktivitas melihat atraksi lumba-lumba asli di tengah laut.
Perlu hati-hati ketika mendaki batu-batu karang

Konsentrasi biar tidak jatuh..
Perjalanan ke Laguna pun Alhamdulillah lancar dan tanpa hambatan. Para tamu yang saya pandu merasa senang meskipun lelah dalam perjalanan. Laguna pun terlihat jernih dan sejuk. Banyak pengunjung lain juga yang sedang berenang dan menikmati indahnya Laguna Gayau. Selama kurang lebih dua jam beraktivitas di Laguna, kami putuskan kembali pulang dari Laguna Gayau dengan meninggalkan kenangan indah selama mengunjungi Teluk Kiluan.
Begitu Indah Pemandangannya
Tidak ada firasat buruk sama sekali setelah mengunjungi Laguna di hari itu. Namun mimpi aneh yang saya alami di malam sebelum kejadian bisa menjadi tanda buruk di keesokan hari di Laguna. Di dalam mimpi, saya akan melakukan sholat jumat dengan anak saya, Zhafran yang berumur 4 tahun. Namun ketika akan sholat jumat, Zhafran minta pipis dan buang air besar yang mengharuskan saya menunggu lama. “Ayah, aku mau pipis,’ Zhafran berkata kepada saya dan saya pun menemaninya ke kamar mandi namun di kamar mandi Zhafran gak hanya buang air kecil namun dia juga buang air besar yang memakan waktu cukup lama. Sholat jumat hampir selesai sehingga saya masbuq karena telat. Nah, setelah sholat jumat, ternyata Imam masih melaksanakan Sholat dan ternyata itu adalah Sholat Jenazah. Saya pun tidak tahu siapa yang meninggal karena setelah sholat jumat saya dan Zhafran langsung pulang. Disisi lain di dalam mimpi saya, saya dan istri saya bertakziah ke makam seseorang yang baru meninggal, namun entah mengapa stelah jenazah dikebumikan seseorang dekat istri saya kemudian mengambil dua kain kafan di dalam makam itu lalu melipatnya. Mungkin hendak dibawanya pulang. Tapi tiba-tiba satu persatu dari kain kafan itu ketarik dan masuk lagi ke dalam makam. Saya merasa heran mengapa kain-kain kafan itu tiba-tiba ketarik lagi ke dalam makam dan apapula maksud dari seseorang itu yang mengambil kain kafan dan melipatnya. Aneh sekali… Tapi itulah mimpi yang saya alami di malam sebelum kejadian di Laguna gayau dikeesokan harinya terjadi. 

Semburan Air dari batu Berbisik yang memukau
Di Pagi hari nya kebetulan Zhafran dan neneknya akan pergi ke pantai Sari Ringgung bersama saudara-saudara yang lain. Wahh, saya agak takut juga teringat mimpi semalam yang saya alami. Saya harus pergi juga ke Sari Ringgung pikir saya karena saya harus mengawasi Zhafran. Zhafran, nenek dan kakeknya kebetulan berangkat ke Pantai bersama saudara yang lain. Okey saya menyusul ke Sari Ringgung pada pukul 11.00 sendiri  tanpa istri saya, karena istri saya sedang hamil besar dan tidak kuat untuk pergi jauh. Ketika saya sedang asyik menyetir tiba-tiba Ponsel saya bordering, Pak Elzhivago memanggil

Lagi dimana, Van?”Tanya Pak Vago.
Saya lagi mau ke Pantai Sari Ringgung Pak nyusul Zhafran,”Jawab saya
Sudah dengar kabar dari Laguna Gayau belum pagi ini,”Tanya Pak Vago lagi
Kejadian apa, Pak? “ saya bertanya balik
Ada tiga orang meninggal di Laguna Gayau pagi ini, ini istri Pak Sulaiman yang mengabari saya,”kata Pak Vago.
DEGGG….!! Saya terkejut luar biasa mendengar kabar ini. Hampir gak percaya juga siy, kemaren saya barusan dari Laguna gayau, Alhamdulillah semua baik-baik saja.
Cuaca pagi ini sedang kurang bagus, ombak sangat besar sehingga menyeret 3 orang pengunjung yang tidak bisa tertolong lagi, mereka ada 8 orang namun tiga orang terseret ombak ketika sedang berfoto selfie, satu orang perempuan dan dua orang laki-laki..,”lanjut Pak Vago.
terus sekarang bagaimana Pak,”Tanya saya lagi
“untuk sementara ini korban yang perempuan sudah ditemukan, sementara dua yang lain masih dalam pencarian,” Pak Vago menjelaskan.
okey Pak makasih atas info nya,” kata saya.
Sama sekali saya gak ada firasat apa-apa tentang tragedi yang terjadi di Laguna Gayau ini. Saya hampir melamun sambil nyetir mobil. Apa benar ini arti dari mimpi semalam ya? Hati saya bertanya-tanya gak karuan. Mengapa saya yang punya firasat sedangkan saya gak ada hubungan sama sekali dengan para pengunjung di Laguna Gayau pada saat kejadian. Mungkin ini biar menjadi pelajaran buat saya kerena sebagai tour leader dan tour guide saya harus lebih berhati-hati lagi ketika sedang mengantar pengunjung ke Laguna Gayau. Saya beristghfar berkali-kali dalam hati agar hati tenang dan selalu dalam lindungan-Nya.

Berenang di Pantai Sari Ringgung dengan Zhafran
Sampai di pantai Sari Ringgung, sesaat hilang tentang kejadi di Laguna Gayau pagi hari ini banyaknya pengunjung yang sedang berwisata disana. Maklum saja hari itu hari terakhir liburan sebelum anak sekolah kembali  beraktivitas di sekolahnya. Saya mengawasi Zhafran dan saudaranya yang sedang berenang di pantai bersama neneknya juga tanpa memikirkan kulit yang mulai menghitam tersengat matahari. Saya pun menyusul berenang sebentar sebelum pulang. 

Bayangan keindahan Laguna gayau terekam jelas dibenak saya dan tidak ada tanda-tanda sama sekali akan menelan korban. Memang banyak hal yang perlu diperhatikan ketika akan mengunjungi Laguna Gayau. Ya pada dasarnya kemanapun kita akan melakukan kunjungan ke tempat-tempat wisata harus memperhatikan situasi sekitar dan yang paling penting adalah kita membutuhkan guide lokal yang lebih faham medan dan cuaca yang mungkin bisa berubah sewaktu-waktu. Terkadang pengunjung yang sudah pernah kesana, mereka tidak membutuhkan guide lagi karena mereka fikir mereka sudah faham medan. Padahal guide lokal itu sangatlah penting terutama saat hendak ke Laguna Gayau. Memang kita harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar guide sebesar Rp.50.000. Sebenernya tidaklah mahal karena merekalah sebenarnya yang faham kondisi medan. Misalnya daerah yang bahaya untuk foto selfi, waktu istirahat dan tempat yang tepat untuk istirahat, cuaca yang sewaktu-waktu bisa berubah, peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan  dan lain-lain. Itulah tugas para guide lokal yang harus mereka jalankan. Namun kita harus tetap waspada pula dengan diri kita masing-masing. Dan dari pengelola objek wisata dan pemerintah daerah pun harus lebih meningkatkan keamanan lagi bagi para pengunjung.
Sebenarnya saya tidak perlu menceritakan mimpi buruk saya ini karena entah ini memang kebetulan, takdir atau sebagai peringatan dari yang kuasa untuk kita semua agar tetap selalu berhati-hati dan tidak boleh terlena dengan keadaan. Tidak hanya di Laguna Gayau, di tempat lain yang jauh lebih indah dan menarik pun kita harus tetap waspada meskipun sudah dipasang rambu-rambu. 
.. Dan untuk ketika korban (Indri Pitaloka Almh, Abimanyu Alm dan Fikri Alm) semoga diterima disisi Allah SWT dan tenang di alam sana... ALFATIHAH...

Tamu Pengunjung dari Palembang

Action di dalam air Laguna gayau

Siapa yang tidak tertarik berenang kalau begini?

Datangnya ombak k Laguna jadi lebih indah...

Kenangan yang tak terlupakan...

 Beberapa gambar di bawah ini adalah gambar yang diambil dari video detik-detik sebelum tragedi ombak Laguna menyambar ketiga korban. Video yang diunggah oleh Yudi Indrawan dan artikel tentang laguna ini masih beredar di Media Sosial meskipun keadaan Teluk Kiluan sekarang sudah mulai aman daari cuaca yang kurang bersahabat. jadi niatlah dalam hati untuk berliburan yang baik, jujur dan tidak membuat onar/masalah. Have a nice holiday.....






TRIP KE PESANGUAN, TRIP UNTUK PENANTANG SEJATI



Adem pemandangannya,, meskipun panas...


Ke Pesanguan?
Baru kali ini saya denger daerah itu di Tanggamus. Ahh,,, semoga tempatnya bagus lah karena biasanya tempat-tempat tersembunyi gitu ada sesuatu yang berbeda dengan yang lain. Iya memang beda siy, begini bedanya..

Indahnya Pesanguan...
Pesanguan adalah sebuah pekon (desa) yang ada di Kecamatan Pematang Sawa, Tanggamus. Kami mendapat undangan dari tim UNILA PILI (Universitas Lampung dan Pusat Informasi Lingkungan Indonesia) untuk berkunjung ke Pesanguan dimana tujuan kami kesana adalah untuk melihat potensi wisata yang ada disana dan juga bersilaturahmi dengan warga yang ada disana. Selain itu, mereka menginginkan untuk dibentuk Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) seperti halnya daerah lain di Tanggamus. Bersama tim dari bidang Pariwisata (Pak Marhasan Samba, Pak Elzhivago, Ibu Rohalyana, Wagito dan Dede Juniansyah) kami berangkat pukul 16.00 WIB pada hari senin, 19 Januari 2016. 

Saya sudah membayangkan bakal menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan karena berdasarkan informasi perjalanan akan melewati Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Banyak pemandangan indah dengan tebing-tebing tinggi dan pohon-pohon besar yang berumuran ratusan tahun. Amazing….
Kami melewati jalan pekon Sukaraja yaitu sebuah jalan yang masuk dari arah belakang Kantor TNBBS Sedayu. “Ahh,,, sudah jam 5 nihh, bakalan malam sampe disana,”Pikir saya. Bayangan saya untuk melihat pemandangan indah perlahan memudar, tinggal rasa takut yang menyelimuti.

Kita naik ojek trail kesana mengingat jalan yang cukup terjal dan berbukit-bukit, ojeknya sudah siap,”demikian kata Ibu Nani, kordinator dari UNILA PILI. Dan ketika sampai di lokasi memang beberapa ojek sudah menunggu kami dengan berbagai macam motor trail dan berbagai gaya para pengendaranya. Satu persatu kami menaiki ojek yang akan membawa kami menuju tempat yang sebelumnya sama sekali tidak pernah saya dengar, Pesanguan. 

Gayanya Mak Rohal sebelum rasa takutnya datang, hahaha
"Saya mau naik motor yang paling lambat jalannya," kata Pak Elzhivago. Mungkin Pak Vago akan lebih menikmati pemandangan pikir saya. Tapi entahlah, mau menikmati perjalanan atau memang Pak Vago ini memang kurang berani, hahaha. Mungkin ada faktor U yang mempengaruhinya.
Motor yang saya tumpangi perlahan mulai lincah menyusuri jalan-jalan berbatu-batu. Kanan kiri banyak pohon-pohon rindang dan besar. Di kejauhan saya melihat teluk semaka yang indah diantara tebing-tebing dan perbukitan. Mentari senja pun kelap-kelip menyinari dari balik pohon-pohon besar. Indah memang, untung saja cuaca cerah. “Katanya jalannya parah dan bikin sport jantung, ahh biasa aja ahh,”gumam saya dalam hati. Heboh amat tadi kalau jalannya terjal dan mengerikan. Tadi pun saat di jalan sempat bertemu Pak Subandri, Ketua POKDARWIS Sukaraja, dia pun berkata kalau jalannya luar biasa bikin jantungan. Hmm  mana… baik-baik saja kok…

Wagito in action...
Masih lama ya mas ?” Tanya saya sama mas ojeknya. “Masih setengah jam lagi Mas,”Jawabnya.
Eh mas, itu kenapa kok pohon-pohon pada rubuh dan tanahnya berantakan,” Saya bertanya sambil menunjuk ke sebelah kiri jalan yang berantakan. Banyak pohon-pohon tumbang dan daunnya seperti dilahap mahluk yang besar dan kelaparan. Ngeri amat..
Itu habis di makan kawanan gajah mas,”Jawab Mas ojek saya. “Semalam banyak gerombolan gajah yang menyerang perkebunan warga dan menyantap pohon-pohon di dalam kebun tadi, makanya kita jangan sampai kemalaman di jalan mas, takut ada gajah,” lanjutnya.

Jalan masuk ke hutan-hutan,, hayuk lahhh
DEGGHH…!!! Saya terkejut dan takut banget kalau sampai ada gajah liar dan tiba-tiba menyerang kami. Wahh.. kacau ini urusan. Sudah pukul 17.45 WIB, hari mulai perlahan-lahan gelap, perjalanan masih belum berakhir. Malah jalan semakin mengecil melewati turunan yang agak curam dan berbatu-batu. Jangan-jangan ini jalan yang dimaksud terjal dan bikin jantungan. Memang benar, jalanan ini lebih terjal dan curam. Ini lebih ekstrim dibanding yang sebelumnya. Sebelumnya saya masih bisa enjoy bareng kawan-kawan yang lain, Wagito, Mak Rohal (panggilan saya kepada Ibu Rohalyana), Pak Samba dan yang lainnya. Namun yang kali ini turunannya lebih tajam ditambah lagi motor yang saya tunggangi gak ada lampu dan rem belakangnya ngeblong kata Mas Ojeknya. Jadi hati-hati benar jalannya. Dalam hati memang gak putus sholawat dan istighfar. Gilaa kalau saya pulang cuma nama doang, hadooh (tepok jidat). Motor mulai menyebrangi sungai kecil yang licin kemudian menanjak.

Me and my ojek,,, hehehe
Licin, rodanya gundul,” kata Mas Ojek saya. Haish lahhh, kenapa pula malang bener nasib saya ini gerutu saya dalam hati. “Mas saya turun sajalah dari pada licin dan gak ketanjak,”Kata saya sambil turun dari motor. Sebel juga rasanya.. haduh hari sudah hampir gelap pula dan kami masih berada di tengah-tengah perkebunan asing begini. Haus dan tidak ada warung, apalagi IndoApril, IndoJuli, weleh mana ada…
Ayo mas naik lagi, harus pegangan lebih kuat ya.,”Ajak Mas Ojek ketika sudah berada di jalan yang aman. Saya naik berharap jalan sudah tidak licin lagi. Iya memang betul tidak licin, tetapi….
“..Masss,,, pegangan yang kencengg, kita mau nanjakkk,”teriak Mas ojek saya. Saya kaget bukan kepalang ketika tiba-tiba motornya ngebut dan nanjak bukit yang hampir 90 derajat sepertinya. Tanjakan yang Cuma setapak dengan jurang berada di sisi sebelah kanan dan mungkin juga sebelah kiri karena saya takut dan memejamkan mata sambil nahan nafas dan sholawat. Motor berjalan agak pelan karena tanjakan sudah tidak ada lagi. Namun ketika belok ke sebalah kiri ternyata tanjakannya lebih dahsyat dan tinggi.
Hati-hati masss…. Allahu Akbaaarrr…,”saya berteriak seolah-olah motor bakalan terbang dan masuk terjerembab ke dalam jurang yang paling dalam dan gelap. Motor tiba-tibaa oleng karena roda belakang menginjak kerikil dan kerikil itupun mental entah kemana. Saya makin kencang mencengkeram bahu mas ojek saya. Entah dia merasa kesakitan atau nggak. Tetapi motornya semakin kebut dan makin kuat aja saya mencengkeram bahunya. Lamaa sekali motor saya menanjak bukit ini seakan tidak berujung saja. Pohon-pohon ilalang di kiri dan kanan seakan-akan memberi semangat dengan lambaian daunnya. “Ayo van, jangan takut, kamu akan segera sampai di puncak”.

Sampai di puncak setelah tanjakan terjal, woww juraangg...
Benar saja, saya sudah sampai di puncak dengan nafas yang hampir habis. Saya melihat Wagito dan Dede sudah sampai di atas sampil tertawa melihat saya ketakutan. Pada dasarnya mereka juga takut siy, namun sudah sampai di puncak, jadi sudah sedikit lega. Wah, kemana Pak Kabid Samba, Bu Rohal dan yang lain?
Saya berlari ke ujung tanjakan dan melihat Mak Rohal jalan kaki. Waduhhhh…..?

Motor gua habis bensin, hufft sialan lahh,” Mak Rachel ngos-ngosan sambil nanjak bukit ini. Kasian juga ngeliatnya, tapi pingin ketawa juga kenapa pula bensin motor bisa sampe kehabisan lahh. Mak Rachel pelan-pelan menanjak keatas, sambil mengeluh. ”Sudah-sudah lagi lah gua kesini ini, kapok dah gak mau lagi,” ujarnya. Hihihi saya sebenarnya mau bilang ini adalah seni dari petualangan berwisata Mak, namun saya urungkan berkata begitu. Kondisi dia lagi kelelahan dan susah nafas, bisa bisa dilemparnya saya pake batu kerikil di tanjakan itu. Hahaha.. lucu, tegang dan menyenangkan memang perjalanan ini. Setelah semua sampai diatas, masing-masing mengutarakan perasaaan hatinya ketika menanjaki bukit.

“Dulu motor yang saya naiki gak ketanjak dan pada akhirnya motor terguling termasuk saya juga ikut terguling-guling dan tertimpa motor, kebetulan yang bawa motor adalah Mas Jhon” cerita Ibu Nani, koordinator dari UNILA PILI sambil melihat kearah Mas Jhon. Mas Jhon adalah fasilitator di lapangan yang selalu mendampingi Ibu Nani. Wah memang luar biasa sekali perjuangan Ibu Nani dan tim nya dalam rangka menjalankan tugasnya.
Sampai di puncak... legaa dan lemes hehehe
Setelah melepas lelah, kami semua melanjutkan perjalanan. “Masih ada tanjakan gini lagi gak mas?”Tanya saya sama mas ojek. “Sudah gak ada lagi mas, tenang aja,” Jawab mas ojek saya sambil tersenyum. Syukurlahhh..

Saya sudah tidak memikirkan bagaimana jalan pulang lagi, yang penting sampai dulu di lokasi. Memang mengasyikkan perjalanan ini bagi pecinta petualang alam dengan segala tantangannya karena ini adalah salah satu wisata minat khusus. Dede Juniansyah salah satu rekan kantor saya pun menyenangi tantangan ini termasuk Wagito juga, seru, seruuu banget kata mereka. Yahh maklumlah masih anak muda dan bujang, lah saya…. Hmmm tergantung.
Masih sempet liat beginian meskipun perjalanan menegangkan
Tanpa terasa kamipun sampai di rumah Pak Kepala Dusun yang akan kami gunakan untuk homestay. Memang rumahnya pun sudah dipakai untuk homestay. Tempatnya cukup sederhana namun fasilitas cukup memadai seperti kamar tidur, kamar mandi meskipun kamar mandi berada di luar rumah namun terdapat 3 kamar mandi yang bisa dipakai untuk beberapa orang tanpa harus lama mengantri. Saya melihat Pak ELzhivago ternyata sudah sampai daritadi dan sudah santai di homestay. Minuman teh hangat dan kopi sudah tersedia oleh tuan rumah. Nikmat sekali cuaca malam yang dingin gini menyeruput kopi khas Tanggamus.

Kumpul bareng warga.. Pak Vago dah ngantuk tuhh
Acara malam hari adalah berdiskusi dengan kelompok masyarakat di salah satu rumah warga di belakang homestay. Banyak masyarakat sudah berkumpul demi terwujudnya sebuah desa wisata di Pesanguan yang memiliki potensi alam yang luar biasa. Mereka sangat menginginkan daerah mereka mendapat perhatian dari pemerintah agar Pesanguan pun bisa besaing dengan daerah lain dalam sector pariwisatanya. Diskusi yang dipimpin oleh Ibu Nani dari UNILA PILI dan kru nya ini cukup membuka wawasan masyarakat tentang bagaimana membentuk suatu objek wisata yang nantinya akan menjadi salah satu destinasi yang bisa diprioritaskan kedepannya. Pengarahan dan penjelasan dari Bapak Marhasan Samba dan Bapak Elzhivago benar-benar membuat masyarakat makin semangat untuk menjadikan Pesanguan sebagai objek wisata. Saya sangat menghargai akan kegigihan dan niat masyarakat untuk mewujudkan itu. Semoga saja bisa terwujud…
Hari pun semakin malam, suara kambing, jangkrik dan serangga malam semakin keras terdengar. Saya sudah menguap berkali-kali. Badan sudah mulai lelah terbayang kasur dan selimut tebal untuk menghalau rasa dingin. Saya mengingat akan perjalanan ke tempat ini sejak dari berangkat tadi hingga saya terbaring. Masih terasa guncangan motor ketika mendaki bukit dengan mulut jurang menganga lebar dan licin. Ahh bagaimana dengan perjalanan pulang besok ya?

Pusat Listrik Tenaga Surya Pesanguan
Endorse Ajnabeezone, tetep lah yaaa

Perjalanan pulang lewat Way Nipah

Dari belakang homestay

Wow... bangett kannn

Sepanjang jalan kenangan

Bareng Bapake Kabid, Marhasan Samba...



JEMBATAN TALANG PRINGSEWU YANG FENOMENAL

Indah bukan?
Jembatan? Ada apa dengan jembatan ini? Mengapa banyak sekali orang yang berfoto d jembatan ini?
Penasaran dengan apa yang dilakukan banyak orang, akhirnya suatu hari saya bisa mengunjungi tempat ini. Memang sebelumnya saya sering sekali melihat di beberapa social media yang memposting foto di sebuah jembatan dengan lengkungan besi kuning dan pagar jembatan berwarna biru itu. Sempat bertanya ke beberapa teman dan mereka memiliki jawaban yang sama.”Di jembatan talang, Van.. Pringsewu…”. Ahh… dmna lahh itu? Jadi makin penasaran.

Pemandangan dari atas jembatan
Tibalah dimana pagi sebelum kerja ke Tanggamus, saya sempatkan untuk mampir kesana (Jembatan Talang) bersama kawan kantor saya, Wagito. Jarak masuknya sih tidak seberapa jauh dari jalan raya, kurang lebih 10 menit masuk ke lokasi. Jalan menuju jembatan pun berbatu-batu kecil dan sebagian hampir diaspal namun sepertinya belum sempat teraspalkan (apa pula maksdnya ini, hehehe). Sebelah kiri jalan masuk ada aliran sungai dari jembatan talang yang mengalir hingga pringsewu. Sunyi dan sepi sekali pagi itu ketika menyusuri jalan ke lokasi talang. “Kalau siang sudah rame disini,” Kata Wagito.” Banyak anak-anak sekolah yang pada kesini dari anak SD sampe anak kuliahan pada maen kesini,”lanjut Wagito.Untunglah saya berkunjung pagi hari itu dengan harapan bisa leluasa melihat lokasi dengan nyaman dan asri.

Dari samping pun tetap indah
Setelah melewati rumpunan pohon bamboo, terlihatlah sudah jembatan talang itu. Hmm aku bedecak kagum sesaat ketika melihat jembatan itu. Yaa, jembatan antara dua bukit dengan jarak kurang lebih 110 meter ini memang memukau, unik dan beda. Jembatan yang bertujuan untuk mengalirkan ailran air ini dibuat pada zaman belanda, kurang lebih tahun 1923. Begitulah menurut keterangan seorang warga yang kebetulan lewat disitu dan saya sempat mengobrol dengannya, namanya Pak Yunus. “Jembatan talang ini ada tiga mas, di sebelah sana ada dua lagi namun jembatan talang yang inilah yang lebih bagus dibanding yang lain, kalau hari libur rame mas disini, banyak anak muda yang berkunjung kemari, makanya disebelah sana dibuat pondokan-pondokan untuk duduk dan orang berjualan,” Kata Pak Yunus sambil menunjukkan ke sudut tempat di samping pintu masuk. Memang sejuk sekali di sudut tempat itu.” Saya juga kalau sore ikut berjualan disini, jualan makanan kecil “lanjutnya.
Harus tetap dijaga keindahan dan kebersihannya
“Awas sampahnya jangan sampai berceceran ya Pak,” Kata saya kepada Pak Yunus. Para pengunjung suatu objek wisata terkadang selalu sembrono kalau masalah sampah. Mereka suka membuang sampah sembarangan meskipun sudah disiapkan tempat sampah dan peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Namun begitulah pengunjung, pengelola objek wisata harus ekstra keras untuk mengingatkan terus kepada pengunjung untuk menjaga kebersihan suatu objek wisata.  Sebagai unsur Sapta Pesona yang ketiga, setelah Keamanan dan ketertiban, kebersihan suatu objek wisata harus benar-benar dijaga. Saya bisa melihat kebersihan lokasi jembatan talang ini cukup bersih, namun banyak coretan-coretan tipe ex di jembatan talang itu yang agak mengganggu pemandangan. Inilah ulah para anak sekolah yang membawa penghapus pena itu untuk mengabadikan nama mereka di pagar jembatan itu yang bisa mengganggu pemandangan dan keindahan.

Namanya mau kerja yaa masih pake baju dinas, hehe
Nanti kedepannya, akan dibuat semacam taman hutan diseberang sana, agar pengunjung yang datang tidak hanya menikmati keindahan jembatan Talang ini saja, namun bisa bersantai sambil bermain di taman hutan sana,” kata Pak Yunus. “.. soalnya beberapa waktu yang lalu, petugas dari Dinas Pariwisata Pringsewu, Bapak Suhairi Sibarani, sudah datang kesini untuk melakukan peninjauan demi pembangunan objek wisata Jembatan Talang kedepannya agar lebih maksimal lagi,” lanjut Pak Yunus menjelaskan kepada saya. Wahh, semoga Jembatan ini akan terpelihara dengan baik dan menjadi destinasi wisata yang bagus dan membawa kemakmuran bagi masyarakat setempat.
Saya memandang foto-foto di kamera dan HP saya, memang indah hasil jepretan di Jembatan Talang ini. Saya tersenyum dan segera berlalu dari Jembatan Talang dengan puas. Ahh terpenuhi sudah keinginan saya mengunjungi Jembatan Talang ini…

Keceee...