I AM AJNABEE

" Kerja sambil piknik ya itu sudah menjadi bagian dari saya. Tidak akan ada cerita tanpa adanya perjalanan.. karena bagi saya ada jalan ya ada cerita.. kalau gak jalan ya tidak ada cerita..Simpel dan tidak pakai ribet.. semua jalani saja.."

TRIP KE PESANGUAN, TRIP UNTUK PENANTANG SEJATI



Adem pemandangannya,, meskipun panas...


Ke Pesanguan?
Baru kali ini saya denger daerah itu di Tanggamus. Ahh,,, semoga tempatnya bagus lah karena biasanya tempat-tempat tersembunyi gitu ada sesuatu yang berbeda dengan yang lain. Iya memang beda siy, begini bedanya..

Indahnya Pesanguan...
Pesanguan adalah sebuah pekon (desa) yang ada di Kecamatan Pematang Sawa, Tanggamus. Kami mendapat undangan dari tim UNILA PILI (Universitas Lampung dan Pusat Informasi Lingkungan Indonesia) untuk berkunjung ke Pesanguan dimana tujuan kami kesana adalah untuk melihat potensi wisata yang ada disana dan juga bersilaturahmi dengan warga yang ada disana. Selain itu, mereka menginginkan untuk dibentuk Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) seperti halnya daerah lain di Tanggamus. Bersama tim dari bidang Pariwisata (Pak Marhasan Samba, Pak Elzhivago, Ibu Rohalyana, Wagito dan Dede Juniansyah) kami berangkat pukul 16.00 WIB pada hari senin, 19 Januari 2016. 

Saya sudah membayangkan bakal menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan karena berdasarkan informasi perjalanan akan melewati Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Banyak pemandangan indah dengan tebing-tebing tinggi dan pohon-pohon besar yang berumuran ratusan tahun. Amazing….
Kami melewati jalan pekon Sukaraja yaitu sebuah jalan yang masuk dari arah belakang Kantor TNBBS Sedayu. “Ahh,,, sudah jam 5 nihh, bakalan malam sampe disana,”Pikir saya. Bayangan saya untuk melihat pemandangan indah perlahan memudar, tinggal rasa takut yang menyelimuti.

Kita naik ojek trail kesana mengingat jalan yang cukup terjal dan berbukit-bukit, ojeknya sudah siap,”demikian kata Ibu Nani, kordinator dari UNILA PILI. Dan ketika sampai di lokasi memang beberapa ojek sudah menunggu kami dengan berbagai macam motor trail dan berbagai gaya para pengendaranya. Satu persatu kami menaiki ojek yang akan membawa kami menuju tempat yang sebelumnya sama sekali tidak pernah saya dengar, Pesanguan. 

Gayanya Mak Rohal sebelum rasa takutnya datang, hahaha
"Saya mau naik motor yang paling lambat jalannya," kata Pak Elzhivago. Mungkin Pak Vago akan lebih menikmati pemandangan pikir saya. Tapi entahlah, mau menikmati perjalanan atau memang Pak Vago ini memang kurang berani, hahaha. Mungkin ada faktor U yang mempengaruhinya.
Motor yang saya tumpangi perlahan mulai lincah menyusuri jalan-jalan berbatu-batu. Kanan kiri banyak pohon-pohon rindang dan besar. Di kejauhan saya melihat teluk semaka yang indah diantara tebing-tebing dan perbukitan. Mentari senja pun kelap-kelip menyinari dari balik pohon-pohon besar. Indah memang, untung saja cuaca cerah. “Katanya jalannya parah dan bikin sport jantung, ahh biasa aja ahh,”gumam saya dalam hati. Heboh amat tadi kalau jalannya terjal dan mengerikan. Tadi pun saat di jalan sempat bertemu Pak Subandri, Ketua POKDARWIS Sukaraja, dia pun berkata kalau jalannya luar biasa bikin jantungan. Hmm  mana… baik-baik saja kok…

Wagito in action...
Masih lama ya mas ?” Tanya saya sama mas ojeknya. “Masih setengah jam lagi Mas,”Jawabnya.
Eh mas, itu kenapa kok pohon-pohon pada rubuh dan tanahnya berantakan,” Saya bertanya sambil menunjuk ke sebelah kiri jalan yang berantakan. Banyak pohon-pohon tumbang dan daunnya seperti dilahap mahluk yang besar dan kelaparan. Ngeri amat..
Itu habis di makan kawanan gajah mas,”Jawab Mas ojek saya. “Semalam banyak gerombolan gajah yang menyerang perkebunan warga dan menyantap pohon-pohon di dalam kebun tadi, makanya kita jangan sampai kemalaman di jalan mas, takut ada gajah,” lanjutnya.

Jalan masuk ke hutan-hutan,, hayuk lahhh
DEGGHH…!!! Saya terkejut dan takut banget kalau sampai ada gajah liar dan tiba-tiba menyerang kami. Wahh.. kacau ini urusan. Sudah pukul 17.45 WIB, hari mulai perlahan-lahan gelap, perjalanan masih belum berakhir. Malah jalan semakin mengecil melewati turunan yang agak curam dan berbatu-batu. Jangan-jangan ini jalan yang dimaksud terjal dan bikin jantungan. Memang benar, jalanan ini lebih terjal dan curam. Ini lebih ekstrim dibanding yang sebelumnya. Sebelumnya saya masih bisa enjoy bareng kawan-kawan yang lain, Wagito, Mak Rohal (panggilan saya kepada Ibu Rohalyana), Pak Samba dan yang lainnya. Namun yang kali ini turunannya lebih tajam ditambah lagi motor yang saya tunggangi gak ada lampu dan rem belakangnya ngeblong kata Mas Ojeknya. Jadi hati-hati benar jalannya. Dalam hati memang gak putus sholawat dan istighfar. Gilaa kalau saya pulang cuma nama doang, hadooh (tepok jidat). Motor mulai menyebrangi sungai kecil yang licin kemudian menanjak.

Me and my ojek,,, hehehe
Licin, rodanya gundul,” kata Mas Ojek saya. Haish lahhh, kenapa pula malang bener nasib saya ini gerutu saya dalam hati. “Mas saya turun sajalah dari pada licin dan gak ketanjak,”Kata saya sambil turun dari motor. Sebel juga rasanya.. haduh hari sudah hampir gelap pula dan kami masih berada di tengah-tengah perkebunan asing begini. Haus dan tidak ada warung, apalagi IndoApril, IndoJuli, weleh mana ada…
Ayo mas naik lagi, harus pegangan lebih kuat ya.,”Ajak Mas Ojek ketika sudah berada di jalan yang aman. Saya naik berharap jalan sudah tidak licin lagi. Iya memang betul tidak licin, tetapi….
“..Masss,,, pegangan yang kencengg, kita mau nanjakkk,”teriak Mas ojek saya. Saya kaget bukan kepalang ketika tiba-tiba motornya ngebut dan nanjak bukit yang hampir 90 derajat sepertinya. Tanjakan yang Cuma setapak dengan jurang berada di sisi sebelah kanan dan mungkin juga sebelah kiri karena saya takut dan memejamkan mata sambil nahan nafas dan sholawat. Motor berjalan agak pelan karena tanjakan sudah tidak ada lagi. Namun ketika belok ke sebalah kiri ternyata tanjakannya lebih dahsyat dan tinggi.
Hati-hati masss…. Allahu Akbaaarrr…,”saya berteriak seolah-olah motor bakalan terbang dan masuk terjerembab ke dalam jurang yang paling dalam dan gelap. Motor tiba-tibaa oleng karena roda belakang menginjak kerikil dan kerikil itupun mental entah kemana. Saya makin kencang mencengkeram bahu mas ojek saya. Entah dia merasa kesakitan atau nggak. Tetapi motornya semakin kebut dan makin kuat aja saya mencengkeram bahunya. Lamaa sekali motor saya menanjak bukit ini seakan tidak berujung saja. Pohon-pohon ilalang di kiri dan kanan seakan-akan memberi semangat dengan lambaian daunnya. “Ayo van, jangan takut, kamu akan segera sampai di puncak”.

Sampai di puncak setelah tanjakan terjal, woww juraangg...
Benar saja, saya sudah sampai di puncak dengan nafas yang hampir habis. Saya melihat Wagito dan Dede sudah sampai di atas sampil tertawa melihat saya ketakutan. Pada dasarnya mereka juga takut siy, namun sudah sampai di puncak, jadi sudah sedikit lega. Wah, kemana Pak Kabid Samba, Bu Rohal dan yang lain?
Saya berlari ke ujung tanjakan dan melihat Mak Rohal jalan kaki. Waduhhhh…..?

Motor gua habis bensin, hufft sialan lahh,” Mak Rachel ngos-ngosan sambil nanjak bukit ini. Kasian juga ngeliatnya, tapi pingin ketawa juga kenapa pula bensin motor bisa sampe kehabisan lahh. Mak Rachel pelan-pelan menanjak keatas, sambil mengeluh. ”Sudah-sudah lagi lah gua kesini ini, kapok dah gak mau lagi,” ujarnya. Hihihi saya sebenarnya mau bilang ini adalah seni dari petualangan berwisata Mak, namun saya urungkan berkata begitu. Kondisi dia lagi kelelahan dan susah nafas, bisa bisa dilemparnya saya pake batu kerikil di tanjakan itu. Hahaha.. lucu, tegang dan menyenangkan memang perjalanan ini. Setelah semua sampai diatas, masing-masing mengutarakan perasaaan hatinya ketika menanjaki bukit.

“Dulu motor yang saya naiki gak ketanjak dan pada akhirnya motor terguling termasuk saya juga ikut terguling-guling dan tertimpa motor, kebetulan yang bawa motor adalah Mas Jhon” cerita Ibu Nani, koordinator dari UNILA PILI sambil melihat kearah Mas Jhon. Mas Jhon adalah fasilitator di lapangan yang selalu mendampingi Ibu Nani. Wah memang luar biasa sekali perjuangan Ibu Nani dan tim nya dalam rangka menjalankan tugasnya.
Sampai di puncak... legaa dan lemes hehehe
Setelah melepas lelah, kami semua melanjutkan perjalanan. “Masih ada tanjakan gini lagi gak mas?”Tanya saya sama mas ojek. “Sudah gak ada lagi mas, tenang aja,” Jawab mas ojek saya sambil tersenyum. Syukurlahhh..

Saya sudah tidak memikirkan bagaimana jalan pulang lagi, yang penting sampai dulu di lokasi. Memang mengasyikkan perjalanan ini bagi pecinta petualang alam dengan segala tantangannya karena ini adalah salah satu wisata minat khusus. Dede Juniansyah salah satu rekan kantor saya pun menyenangi tantangan ini termasuk Wagito juga, seru, seruuu banget kata mereka. Yahh maklumlah masih anak muda dan bujang, lah saya…. Hmmm tergantung.
Masih sempet liat beginian meskipun perjalanan menegangkan
Tanpa terasa kamipun sampai di rumah Pak Kepala Dusun yang akan kami gunakan untuk homestay. Memang rumahnya pun sudah dipakai untuk homestay. Tempatnya cukup sederhana namun fasilitas cukup memadai seperti kamar tidur, kamar mandi meskipun kamar mandi berada di luar rumah namun terdapat 3 kamar mandi yang bisa dipakai untuk beberapa orang tanpa harus lama mengantri. Saya melihat Pak ELzhivago ternyata sudah sampai daritadi dan sudah santai di homestay. Minuman teh hangat dan kopi sudah tersedia oleh tuan rumah. Nikmat sekali cuaca malam yang dingin gini menyeruput kopi khas Tanggamus.

Kumpul bareng warga.. Pak Vago dah ngantuk tuhh
Acara malam hari adalah berdiskusi dengan kelompok masyarakat di salah satu rumah warga di belakang homestay. Banyak masyarakat sudah berkumpul demi terwujudnya sebuah desa wisata di Pesanguan yang memiliki potensi alam yang luar biasa. Mereka sangat menginginkan daerah mereka mendapat perhatian dari pemerintah agar Pesanguan pun bisa besaing dengan daerah lain dalam sector pariwisatanya. Diskusi yang dipimpin oleh Ibu Nani dari UNILA PILI dan kru nya ini cukup membuka wawasan masyarakat tentang bagaimana membentuk suatu objek wisata yang nantinya akan menjadi salah satu destinasi yang bisa diprioritaskan kedepannya. Pengarahan dan penjelasan dari Bapak Marhasan Samba dan Bapak Elzhivago benar-benar membuat masyarakat makin semangat untuk menjadikan Pesanguan sebagai objek wisata. Saya sangat menghargai akan kegigihan dan niat masyarakat untuk mewujudkan itu. Semoga saja bisa terwujud…
Hari pun semakin malam, suara kambing, jangkrik dan serangga malam semakin keras terdengar. Saya sudah menguap berkali-kali. Badan sudah mulai lelah terbayang kasur dan selimut tebal untuk menghalau rasa dingin. Saya mengingat akan perjalanan ke tempat ini sejak dari berangkat tadi hingga saya terbaring. Masih terasa guncangan motor ketika mendaki bukit dengan mulut jurang menganga lebar dan licin. Ahh bagaimana dengan perjalanan pulang besok ya?

Pusat Listrik Tenaga Surya Pesanguan
Endorse Ajnabeezone, tetep lah yaaa

Perjalanan pulang lewat Way Nipah

Dari belakang homestay

Wow... bangett kannn

Sepanjang jalan kenangan

Bareng Bapake Kabid, Marhasan Samba...



JEMBATAN TALANG PRINGSEWU YANG FENOMENAL

Indah bukan?
Jembatan? Ada apa dengan jembatan ini? Mengapa banyak sekali orang yang berfoto d jembatan ini?
Penasaran dengan apa yang dilakukan banyak orang, akhirnya suatu hari saya bisa mengunjungi tempat ini. Memang sebelumnya saya sering sekali melihat di beberapa social media yang memposting foto di sebuah jembatan dengan lengkungan besi kuning dan pagar jembatan berwarna biru itu. Sempat bertanya ke beberapa teman dan mereka memiliki jawaban yang sama.”Di jembatan talang, Van.. Pringsewu…”. Ahh… dmna lahh itu? Jadi makin penasaran.

Pemandangan dari atas jembatan
Tibalah dimana pagi sebelum kerja ke Tanggamus, saya sempatkan untuk mampir kesana (Jembatan Talang) bersama kawan kantor saya, Wagito. Jarak masuknya sih tidak seberapa jauh dari jalan raya, kurang lebih 10 menit masuk ke lokasi. Jalan menuju jembatan pun berbatu-batu kecil dan sebagian hampir diaspal namun sepertinya belum sempat teraspalkan (apa pula maksdnya ini, hehehe). Sebelah kiri jalan masuk ada aliran sungai dari jembatan talang yang mengalir hingga pringsewu. Sunyi dan sepi sekali pagi itu ketika menyusuri jalan ke lokasi talang. “Kalau siang sudah rame disini,” Kata Wagito.” Banyak anak-anak sekolah yang pada kesini dari anak SD sampe anak kuliahan pada maen kesini,”lanjut Wagito.Untunglah saya berkunjung pagi hari itu dengan harapan bisa leluasa melihat lokasi dengan nyaman dan asri.

Dari samping pun tetap indah
Setelah melewati rumpunan pohon bamboo, terlihatlah sudah jembatan talang itu. Hmm aku bedecak kagum sesaat ketika melihat jembatan itu. Yaa, jembatan antara dua bukit dengan jarak kurang lebih 110 meter ini memang memukau, unik dan beda. Jembatan yang bertujuan untuk mengalirkan ailran air ini dibuat pada zaman belanda, kurang lebih tahun 1923. Begitulah menurut keterangan seorang warga yang kebetulan lewat disitu dan saya sempat mengobrol dengannya, namanya Pak Yunus. “Jembatan talang ini ada tiga mas, di sebelah sana ada dua lagi namun jembatan talang yang inilah yang lebih bagus dibanding yang lain, kalau hari libur rame mas disini, banyak anak muda yang berkunjung kemari, makanya disebelah sana dibuat pondokan-pondokan untuk duduk dan orang berjualan,” Kata Pak Yunus sambil menunjukkan ke sudut tempat di samping pintu masuk. Memang sejuk sekali di sudut tempat itu.” Saya juga kalau sore ikut berjualan disini, jualan makanan kecil “lanjutnya.
Harus tetap dijaga keindahan dan kebersihannya
“Awas sampahnya jangan sampai berceceran ya Pak,” Kata saya kepada Pak Yunus. Para pengunjung suatu objek wisata terkadang selalu sembrono kalau masalah sampah. Mereka suka membuang sampah sembarangan meskipun sudah disiapkan tempat sampah dan peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan. Namun begitulah pengunjung, pengelola objek wisata harus ekstra keras untuk mengingatkan terus kepada pengunjung untuk menjaga kebersihan suatu objek wisata.  Sebagai unsur Sapta Pesona yang ketiga, setelah Keamanan dan ketertiban, kebersihan suatu objek wisata harus benar-benar dijaga. Saya bisa melihat kebersihan lokasi jembatan talang ini cukup bersih, namun banyak coretan-coretan tipe ex di jembatan talang itu yang agak mengganggu pemandangan. Inilah ulah para anak sekolah yang membawa penghapus pena itu untuk mengabadikan nama mereka di pagar jembatan itu yang bisa mengganggu pemandangan dan keindahan.

Namanya mau kerja yaa masih pake baju dinas, hehe
Nanti kedepannya, akan dibuat semacam taman hutan diseberang sana, agar pengunjung yang datang tidak hanya menikmati keindahan jembatan Talang ini saja, namun bisa bersantai sambil bermain di taman hutan sana,” kata Pak Yunus. “.. soalnya beberapa waktu yang lalu, petugas dari Dinas Pariwisata Pringsewu, Bapak Suhairi Sibarani, sudah datang kesini untuk melakukan peninjauan demi pembangunan objek wisata Jembatan Talang kedepannya agar lebih maksimal lagi,” lanjut Pak Yunus menjelaskan kepada saya. Wahh, semoga Jembatan ini akan terpelihara dengan baik dan menjadi destinasi wisata yang bagus dan membawa kemakmuran bagi masyarakat setempat.
Saya memandang foto-foto di kamera dan HP saya, memang indah hasil jepretan di Jembatan Talang ini. Saya tersenyum dan segera berlalu dari Jembatan Talang dengan puas. Ahh terpenuhi sudah keinginan saya mengunjungi Jembatan Talang ini…

Keceee...

TOUR KRAKATAU, Melihat Sebuah Legenda Dunia


Krakatau yang melegenda...
"Van, ada jatah tiket tour krakatau niy gratis untuk dua orang dari tiap-tiap kabupaten," telfon kawan saya, ELtra Fesadilop siang itu ketika saya sedang di kantor. Wah tour ke Gunung Krakatu gratis? langsung saja saya sumringah mendengarnya, tapi harus dua orang saja jatahnya. Siapa ya satu lagi yang mau ikut? ngajak istri tapi istri gak bisa, kasian juga anak saya gak diajak, naik gunung pula. Ahh akhirnya saya mengajak kawan kantor saja dah, Wagito.
Kapan Lagi bisa ke Krakatau gratis, hehehe
Ini adalah rangkaian dari kegiatan Festival Krakatau yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung. kegiatan tahunan ini selalu ramai diikuti oleh banyak pihak yang ikut berpartisipasi dalam acara, baik dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung ataupun dari luar Lampung. Salah satu dari kegiatan itu adalah Tour Krakatau.
Melihat sebuah legenda dunia akan dahsyatnya dari letusan gunung krakatau pada tahun 1883 ini akan selalu dikenang turun-temurun oleh masyarakat Lampung khususnya dan untuk dunia pada umumnya. Kini gunung yang sudah meletus itu sudah muncul kembali ke permukaan laut, Gunung Anak Krakatau (GAK) yang sampai saat ini masih aktif sebagai gunung merapi. Ahh, saya akan segera kesana dan menginjakkan kaki saya di gunung itu. Dulu pernah sekali mengikuti tour krakatau, namun kami dulu menaiki kapal Ferry dan tidak bisa berlabuh ke daratan Gunung Anak Krakatau. Untuk kali ini kami tidak menggunakan kapal ferry lagi karena panitia sudah menyiapkan beberapa kapal kecil agar bisa berlabuh disana.

Hari sabtu, 29 Agustus 2015 pukul 06.00 semua peserta harus sudah stand by di lapangan Korpri komplek gubernuran. Banyak sekali peserta yang ikut dalam tour ini. Namun dari segitu banyaknya peserta yang ikut, tak satupun yang aku kenal, lirik sana lirik sini, tetap banyak orang asing yang aku gak kenal sama sekali. Namun tiba-tiba..
Blogger yang akan melegenda juga  Mbak Donna dan Ibu Evi
"Mas, Hanung.. hai..," seseorang mamanggil saya. Kaget juga saya dengar sebutan itu, sepertinya kenal dengan suaranya dan ketika saya menoleh kearah mereka ternyata mereka adalah para alumni Festival Teluk Semaka 7 Tanggamus tahun lalu. Wahh syukurlah mereka masih kenal sama saya, hahaha
"Mas Hanung juga ikut nihh teman-teman, asyikk bisa reuni di Karakatau," Mbak Melly berkata kepada kawan-kawannya yang kala itu sudah berkumpul, Mas Halim, Mbak Donna, Ibu Evi, Mas Yopie dan seorang blogger yang saya belum pernah tau sebelumnya, Katerina.

Hanung adalah sebutan mereka ketika acara Festival Teluk Semak 7 Lalu di Tanggamus. Saya juga gak merasa mirip dengan sutradara kondang, Hanung Bramantyo itu. Jauhhh...... jauhh banget, saya di Lampung dan dia di Jawa sana, hehehe. Tapi yaa gak papa lah itu hanya panggilan yang memiliki ciri tentang identitas seseorang. kali-kali saja nasib saya pun bisa seperti Hanung Bromo, ehhh Bramantyo maksud saya.
Perjalanan kurang lebih 1 jam menuju Grand Elty Krakatoa di Kalianda dimana dari situlah kami akan menyebrang menuju Gunung Anak Krakatau. terbayang sudah 4 jam akan menuju Krakatau. Siap-siap saja obat anti mabuk laut.
Satu jam, dua jam berlalu sudah kapal melaju menuju Krakatau, “ahhh lama sekali sampainya. Saya melihat peserta ada yang sudah mengantuk dan para peserta yang tadinya berkicau bak burung merpati, kini perlahan-lahan meredup dan hanya deburan ombak saja yang terdengar dari sisi kanan dan kiri kapal.
Cagar Alam Krakatau
Hampir 4 jam perjalanan dan sampailah akhirnya ke Gunung Anak Krakatau. Agak merinding juga saat kaki mulai menginjakkan ke pasir hitam di lereng Krakatau. Panas... yaa memang saat itu sudah pukul 12.05 WIB. Hawa panas dari laut dan gersangnya Gunung Anak Kraktau mulai terasa menyengat. Alunan musik live tradisional menyambut kedatangan rombongan peserta tour disertai dengan atraksi pencak silat dari anak-anak kecil yang lincah.
Tidak ada panitia yang memberi arahan kepada peserta tour untuk kegiatan selanjutnya. Tour Leader nya pun tidak memberikan instruksi kepada peserta tentang apa yang harus dilakukan. Ya memang kalaupun tujuan kita k gunung sudah pasti kita akan mendaki, namun karena tidak ada aba-aba yasudah lah satu persatu kami mulai mendaki Krakatau. Letihh.. Panas... Gerahh..

Bisa dibayangkan betapa panasnya mendaki Gunung Anak Krakatau di siang bolong tanpa ada pepohonan di kanan dan kiri. Debu dan tanah hitam panas begitu membuat nafas sesak. Para peserta mulai berfoto-foto dan bervideo ria saat mendaki. Saya menatap sekeliling gunung, tak ada pepohonan tumbuh semuanya bebatuan dan tanah hitam yang panas. Saya sudah tidak sanggup lagi untuk mendaki sampai puncak. Serasa badan begitu letih bagaikan di padang pasir yang panas dan terik. “Ahh lebih baik turun saja dari pada menyusahkan orang kalau seandainya saya pingsan”. Aku melihat kawan-kawanku dengan bangganya bisa mengibarkan bendera merah putih di puncak Krakatau, Wagito, Eltra dan hampir setengah peserta bisa mencapai puncak. “biarlah, setidaknya saya sudah menginjakkan kaki di Krakatau, sang legenda dunia itu.
Bisa kibarkan bendera meski tak sampai puncak
Para peserta yang sudah sampai di puncak satu persatu mereka turun. Namun beberapa dari mereka mengeluh karena sepatu-sepatu mereka meleleh. Yaa, sepatu-sepatu yang tidak tahan dengan batu dan tanah yang panas akan meleleh. Matahari pun terus mengiringi kami dengan teriknya. Awan pun tidak berani mendampingi matahari seolah-olah ingin menunjukkan kehebatan dan kegersangan sang Krakatau. Saya menatap Krakatau sambil berkata dalam hati bahwa saya sudah kalah karena tidak bisa menaklukkannya hingga ke puncak, suatu saat saya pasti akan sampai puncak, bahkan puncak paling tinggi sekalipun.
Tidak ada aktivitas lain setelah turun dari Karakatau, para panitia dan tour guide sudah menginstruksikan segera menaiki kapal untuk kembali ke darat, Grand Elty Krakatoa dimana kami tadi mulai menaiki kapal. Mungkin untuk berkunjung ke Krakatau harus berangkat lebih pagi lagi atau bahkan bermalam disana agar bisa mengeksplor lebih lama lagi selain hanya mendaki. Sayang sekali jika perjalanan sudah memakan waktu 4 jam namun ketika sampai di Krakatau kita hanya diberi waktu kurang lebih 2 jam saja.
Perlahan kapal pun mulai meninggalkan Krakatau. Semua peserta sudah berada di kapal dan segera meninggalkan sang legenda itu. Saya menatap lama Krakatau sampai puncaknya terlihat mengecil dan jauh. Lelah sungguh terasa saat pendakian tadi. Terbayang akan perjalanan pulang yang membutuhkan waktu 4 jam lagi untuk sampai ke darat. Lautan luas masih tenang dengan riak ombaknya yang bersahabat. Matahari senja pun mengiringi perjalanan pulang kami dengan cahaya senjanya di ufuk cakrawala. Indah sekali…. 

Endorse T-Shirt K-hoet milik Eltra, lumayan dapet gratis

Diskusi program Festival Teluk Semaka di Krakatau, hehehe

Menunggu keberangkatan di Grand Elty Krakatoa

Bareng si Ikram, peserta unik dengan rambut nyentrik nya

Masih semangat mendaki....

....dan pada akhirnya, Eltra ambruk juga...