I AM AJNABEE

" Kerja sambil piknik ya itu sudah menjadi bagian dari saya. Tidak akan ada cerita tanpa adanya perjalanan.. karena bagi saya ada jalan ya ada cerita.. kalau gak jalan ya tidak ada cerita..Simpel dan tidak pakai ribet.. semua jalani saja.."

ADA YANG BERBEDA DENGAN FTS VIII (BAGIAN 2)



Inilah para blogger dan medsos FTS VIII, gak usah ditunggu filmnya karena gak akan pernah tayang, hehe
Keseruan acara Festival Teluk Semaka VIII belum berakhir… rasa pegal di kaki sisa-sisa dari visit Ulu Belu kemarin masih bersisa (ciee bahasanya, Visit Ulu Belu.. kayak apa aja dah) hahaha
Mas, jadi expose ke dermaga Kota Agung gak?” sebuah sms masuk ke HPku, ahh Mbak Dewi Sandra KW sudah kirim sms jam 05.00. Hahai Mbak Katerina emang agak mirip dikit dengan Dewi Sandra, miripnya dikit dan gak miripnya banyak banget. Sama seperti aku tahun kemaren ngetren dengan julukan Hanung Bramantyo KW. Tahun ini sebutan itu mulai pudar dan nyaris tidak terdengar lagi. Hmm, pasti gara-gara si Dewi Sandra KW,, hadeh.. biarlah
menunggu ikan datang di dermaga Kota Agung

Lanjut lagi ke segmen berikutnya yaitu melihat aktifitas di Dermaga Kota Agung di pagi hari. Sunrise masih terlihat jelas pagi hari di dermaga. Para nelayan yang pulang mencari ikan masih satu dua kapal yang datang. Orang-orang berkerumun di sisi dermaga untuk membeli ikan laut yang segar. Sembari melihat aktifitas di dermaga, kamipun tak luput dari bidikan-bidikan candid kamera yang merajalela. Apalagi Ibu Evi yang demen banget candid untung bukan candil bu, candil Borobudur welehhh (brukkk,,awas kejatuhan stupa Bu).

Tuh kan gayanya si tukang candid,, hmmm
Okey, waktu terbatas, jam 08.00 kita harus segera explore ke lapangan merdeka ya,” seruku kepada mereka yang sedang asik melihat aktivitas dermaga. Hmm alhamdulilah para peserta nurut sama tour leader nya, hahaha serasa jadi bos ya aku ini.. emang tahun ini panitianya banyak aturan, begitulah kata Bang Indra Pradya pernah menyeletuk suatu malam. Yaa karena aku fikir kalau tidak diarahkan dengan jadwal takutnya jadi amburadul, betul gak si Mas Yopie Pangkey? Sampe-sampe mas Yopie aja bisa aku atur lho, tapi ya Cuma dua hari ini aja si hehehe selama tour... di luar tour mah gak berani, takut ama yang diatasnya.

Sebelum acara explore ke lapangan merdeka, pastinya aku briefing dulu selama kurang lebih lima menit .”Hari ini kita akan explore aktivitas di Lapangan dimulai dari acara pengetahan adok, helaran budaya dan segala macam aktivitas di lokasi, jangan lupa pakai baju putih Festival Teluk Semaka yang kece itu dan pakailah syal serta ID card sebagai tanda kita adalah media social yang akan meliput acara,” terangku kepada para peserta. Sebenarnya tujuan dipakainya syal bukan itu siy, tapi biar benda itu dipakai oleh peserta, orang aku dah capek-capek beli kok gak dipakai. Terserah mau dipakai dibagian tubuh manapun, yang penting ada benda itu nempel aja. Meskipun barangnya kurang bagus, harus dipakai. (liat aja, yang kemaren syalnya dicopot, gak akan diundang lagi tahun depan, nahh lhoo.. itu tu peserta yang pake sepatu abu-abu, celana garis-garis dan kaos kaki kuning )

Menunggu acara mulai... di Taman Kota Agung
Perjalanan dari penginapan ke lokasi acara hanya ditempuh 10 menit saja dengan berjalan kaki biar sehat dan bisa menikmati perjalanan (sebenarnya bisa aja siy bawa mobil, tapi ribet mau parkirnya, ruame poll). Tapi alhamdulilah peserta gak ada yang komplen lho sama aku, apa mereka komplen pas pulang dari acara FTS ya,, hmm hanya Tuhan yang tahu). Persiapan air mineral, makanan kecil, permen, pelindung matahari tidak lupa jadi bekal selama liputan ke lapangan (Ngomong-ngomong masalah pelindung matahari, lotion pelindung matahari saya ketinggalan di tas bu Evi,, masih baru lho itu Bu, baru beli… baru juga sekali pake, hadehh.. tahun depan bawa ya Bu.. hihii)
Dua pasang pengantin pengetahan adok
Setiba di lokasi acara, para peserta mulai menyebar, inget jangan aneh-aneh di lokasi. Ada lho yang ketangkep kamera lagi berduaan di tangga taman kota. Hmmm… kesempatan dah.. untung panitia pura-pura gak liat. Tidak apa-apa, mungkin ini hari terakhir.. oww oww syahdu… Selain itu juga banyak peserta yang jeprat-jepret busana adat yang akan dipakai untuk iring-iringan pengetahan adok, dimana pengetahan adok adalah pemberian gelar adat kepada tokoh tertentu yang sudah dimusyawarahkan oleh Majelis Penyimbang Adat Lampung (MPAL). Sungguh menarik sekali acara ini, banyak busana adat lampung yang sangat beragam dan dikenakan oleh masyarakat Lampung disana-sini sebelum acara dimulai. Hasil-hasil foto pun makin beragam. Ahh senangnya aku melihat mereka bertebaran kesana kemari bagaikan kupu-kupa yang hinggap di lembah madu. Sumringah….
Iringan pengetahan adok
Acara pengetahan adok pun dimulai. Iring-iringan rombongan para tokoh adat dan pejabat Tanggamus, mulai dari Bupati Tanggamus (H. Bambang Kurniawan, ST), Wakil Bupati (H. Samsul Hadi ), Sekretaris Daerah Tanggamus dan jajaran pejabat mulai keluar dari rumah dinas Bupati dan akan diarak menuju Lapangan. Dua pasang berbusana pengantin lampung pun sudah siap ditandu dan digotong menuju singgasana pengetahan adok. Ohh merekalah dua pasang pengantin yang akan dinobatkan oleh MPAL untuk memperoleh gelar kebangsaan adat Lampung. Mungkin suatu saat blogger yang hebat akan diberi gelar juga nanti di Tanggamus hehehe… (siap-siap naik tandu ya Mbak Donna tapi naik saja gak ada yang gotong.. biar difotoin ama Mas Yopie).
Arak-arakan semakin meriah tatkala rombongan sudah sampai di lokasi. Sebuah panggung megah dengan ornament khas tanggamus sudah tersedia dengan poade berwarna putih dan mewah. Disitulah para pengantin yang akan diberikan gelar. Semua tokoh adat dan masyarakat sudah berkumpul untuk menyaksikan acara ini. Lalu kemanakah para blogger dan media social? Aku berkeliling menebarkan pesona mata untuk mengecek para bloggers dan ternyata mereka……
Di Tenda Ulu Belu Coffee
Sebuah tenda disamping panggung utama tampak ramai oleh pengunjung. “Ayo mas mampir, cobain gratis”, teriak seorang mbak penjual minuman hitam legam panas dan bertuliskan, ULU BELU COFFEE. Hmm pantas saja para bloggers berkumpul disini dengan medsos yang lain. Ternyata mereka sedang berteduh dibawah tenda sambil menimati Ulu Belu Coffee. Aku melihat Indra Pradya si endorseman sedang take video untuk promo Ulu Belu Coffee. Beberapa sedang berkomunikasi dengan sang pemilik Ulu Belu Coffee. Sangat kreatif sekali mereka ini. Biarlah mereka asik dengan dunianya sendiri demi menghasilkan artikel atau dokumentasi yang bagus pastinya. Aku duduk termenung melihat ke samping kiri tenda, seorang penjual es cendol sedang dikerumuni oleh para pembeli yang mayoritas anak-anak. Satu persatu mereka menyeruput es cendol itu lewat pipet warna-warni di mulut mereka. Aku menggengam sebuah batu dan membayangkan kalau batu yang aku pegang akan sama seperti anak-anak itu. Hmm,… aku menelan ludah berkali-kali, malu mau membeli bareng anak-anak itu.
Salah satu atraksi dalam helaran budaya
Pengetahan adok selesai, acara dilanjutkan dengan helaran budaya yang spektakuler. Ini dia acara yang ditunggu-tunggu. Semua riang gembira, masyarakat makin memadati arena. Cuaca yang panas tidak dirasakan lagi. Penampilan-penampilan peserta karnaval semakin memukau. Ada sekitar 17 komunitas yang ikut berpartisipasi dalam helaran ini. Dibuka oleh penampilan sanggar SMP Xaverius Gisting dengan atraksi music angklung yang diiringi dengan tarian daerah membuat penonton bedecak kagum. Dilanjutkan dengan atraksi pencak khakot yang tahun lalu tampil spektakuler 1200 peserta. Kali ini Khakot tampil dengan atraksi cerita Batin Mangunang. Selain atraksi polisi cilik Tanggamus pun semakin membuat para penonton geregetan (udah kayak liat Sherina Munaf aja, geregetan). Seperti yang diceritakan oleh beberapa bloggers di blog nya yang mengatakan bahwa helaran budaya di Tanggamus ini bagaikan melihat Indonesia mini karena budaya yang ditampilkan gak Cuma berasal dari Lampung saja namun dari berbagai daerah di Indonesia seperti Batak, Sunda, Makasar, Padang, Bali, Sumatera Selatan, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Lalu kemanakah para blogger dan medsos? Wow.. mereka sedang mengamati dari depan panggung (good job, I like it).
The pocils in action
Penampilan dari komunitas agama hindu jadi penutup acara helaran budaya ini, kamipun mulai berhamburan ke tengah-tengah lapangan sambil loncat-loncat bersuka ria mengikuti irama music. Selesai sudah acara liputan D’Semaka Tour hari kedua ini. Dua hari sudah mereka bersama-sama dalam keriangan Festival. Akan banyak sekali cerita dan kenangan yang akan mereka bawa selepas dari Tanggamus ini. Senyum kelelahan sangat terlihat dari semua wajah mereka, entahlah apa mereka memang letih atau lapar? Kalau soal ini jangan bertanya sama mas Halim, dia pasti akan selalu tersenyum dalam setiap kesempatan. Murah senyum dan selalu enjoy menjalani setiap acara. Kita tak akan pernah tahu kapan dia akan sedih dan senang. Semuanya senyum,,, tidurpun pasti tersenyum, seolah-olah mimpi ketemu bidadari padahal sampingnya adalah Mas Yayan. Hehehe
Penampilan dari komunitas Hindu
Orang-orang satu persatu mulai berlalu dari lokasi. Kamipun turut berlalu dari keramaian mencari makan siang yang sudah lewat waktu (mudah-mudahan gak ada yang komplen). Rumah Makan Pondok Bambu jadi tempat makan pilihan kami. Dengan suasana lesehan, kami semua segera meluruskan kaki kaki yang hampir potel (potel pala khakot..bukan Barbie lagi). Ngobrol ngalor ngidul mengenai acara Festival yang baru saja digelar mulai sambung-menyambung. Semua berkomentar sambil memperlihatkan foto-foto yang ada di kamera mereka. Ada yang tertawa, ada yang sebel dan ada pula yang gak terima hasil foto-foto candid diantara mereka. Seru sekali mereka ini, jauh-jauh dari luar lampung kalau sampai Tanggamus diam saja siy mending makan krupuk aja di rumah masing-masing. Hehehe…
Foto bareng Pak Kepala DInas, Bp. Supardi,Syarkawi
Makan siang telah selesai, kami semua kembali ke penginapan untuk packing dan kembali ke rumah masing-masing. Hmmm… sedih sekali berpisah dengan mereka ini. Andai saja selalu ada Festival tiap bulan di Tanggamus, biarlah mereka datang lagi dan lagi. Namun silaturahmi kami tetap terjalin lewat media social yang sudah kami miliki. Salam dan tegur sapa akan selalu kami lakukan setiap saat melalui media social baik twitter, facebook ataupun instagram.

Aku bersalaman dengan mereka satu persatu. Kuucapkan rasa terima kasihku kepada mereka atas waktu yang mereka luangkan demi datang ke acara Festival Teluk Semaka ini. Aku meminta maaf atas segala kekurangan selama acara, khususnya aku yang bertanggung jawab atas mereka. Senyum dan salam perpisahan pun kami lakukan sebelum mereka melangkahkan kaki ke dalam kendaraan yang akan membawa mereka pergi.

Dua mobil yang mereka tumpangi pelan-pelan mulai bergerak maju dan meninggalkan penginapan tempat kami menginap. Lambaian tangan terasa makin lama semakin jauh hingga tak terasa mobil mereka pun tidak kelihatan lagi. Alhamdulilah,, selesai sudah tanggung jawabku dalam menemani mereka selama acara. Aku tersenyum menatap mentari senja dan seolah-olah sinarnya mengelus kepalaku sambil berbisik “ Kamu hebat van,, acara berjalan dengan lancar, jangan bersedih karena mereka pergi, mereka pasti akan kembali lagi..”. aku mengusap peluh di keningku dan kembali ke penginapan. Sepi.. sunyi.. dan tanpa suara…

Miss this moment

kapan lagi mau gila-gilaan




11 komentar:

  1. Jadi Kak Elvan kangen dengan kita-kita ya? Kita juga ding...Ayo rapat dengan atasan, bikin festival 3 kali setahun di Tanngamus...

    Duh memang berkumpul dengan kalian luar biasa. Aku tuh gak brentu-brenti tertawa. Sampai sakit perut. Untung gak sampai kecelakaan....Hahaha ngerti kan maksudnya?

    BalasHapus
  2. Jadi Kak Elvan kangen dengan kita-kita ya? Kita juga ding...Ayo rapat dengan atasan, bikin festival 3 kali setahun di Tanngamus...

    Duh memang berkumpul dengan kalian luar biasa. Aku tuh gak brentu-brenti tertawa. Sampai sakit perut. Untung gak sampai kecelakaan....Hahaha ngerti kan maksudnya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha awas Bu kecelakaaannn... inget kita masih ada next trip lhoo.... hehehe

      Hapus
  3. Sama seperti part 1, dari awal baca tulisan Mas Elvan langsung dibuat ngikik ngakak ngekek.

    Pertama, itu alenia pertama langsung bahas SMS orang yang mirip dikit dan ga mirip banyak Dewi Sandra ya. Sebenernya, aku itu pingin SMS sejak jam 1 dini hari, saking ngebetnya pingin ke dermaga :p

    Kedua, tolong dicatet ya, sunblockmu bukan dititip ke mbak Evi, tapi di tasku. Mas sendiri yang masukin ke tasku. Jadi, kalo lupa ambil, ambil sendiri sini di rumahku :p

    Ketiga, aku penasaran siapa yang pake sepatu abu-abu, celana garis-garis dan kaos kaki kuning itu :D

    Keempat, andai tiap panitia festival seperti Mas Elvan, alangkah senangnya bisa punya pengalaman berharga seperti di FTS kemarin :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. wahhh banyak amat koment nya mbak kaetrien... but anyway usulan akan dipertimbangkan yaa,,, sipp bgt komennya

      Hapus
  4. festival 3x setahun, kecelakaan? duh mba evi :v

    Mas elvan, next FTS ajak aku pokoknya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha..Iya Mbak Noe..Kalau gak direm-rem ketawanya bisa kecelakaan aku kemarin...

      Hapus
  5. festival 3x setahun, kecelakaan? duh mba evi :v

    Mas elvan, next FTS ajak aku pokoknya!

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah, aku nggak pake kaos kaki kuning

    *udah mau komen itu aja* hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaa baiklah mas... next trip masih bsa ikut kalo gitu hehehe

      Hapus