I AM AJNABEE

" Kerja sambil piknik ya itu sudah menjadi bagian dari saya. Tidak akan ada cerita tanpa adanya perjalanan.. karena bagi saya ada jalan ya ada cerita.. kalau gak jalan ya tidak ada cerita..Simpel dan tidak pakai ribet.. semua jalani saja.."

TOUR KRAKATAU, Melihat Sebuah Legenda Dunia


Krakatau yang melegenda...
"Van, ada jatah tiket tour krakatau niy gratis untuk dua orang dari tiap-tiap kabupaten," telfon kawan saya, ELtra Fesadilop siang itu ketika saya sedang di kantor. Wah tour ke Gunung Krakatu gratis? langsung saja saya sumringah mendengarnya, tapi harus dua orang saja jatahnya. Siapa ya satu lagi yang mau ikut? ngajak istri tapi istri gak bisa, kasian juga anak saya gak diajak, naik gunung pula. Ahh akhirnya saya mengajak kawan kantor saja dah, Wagito.
Kapan Lagi bisa ke Krakatau gratis, hehehe
Ini adalah rangkaian dari kegiatan Festival Krakatau yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Lampung. kegiatan tahunan ini selalu ramai diikuti oleh banyak pihak yang ikut berpartisipasi dalam acara, baik dari seluruh kabupaten/kota di Provinsi Lampung ataupun dari luar Lampung. Salah satu dari kegiatan itu adalah Tour Krakatau.
Melihat sebuah legenda dunia akan dahsyatnya dari letusan gunung krakatau pada tahun 1883 ini akan selalu dikenang turun-temurun oleh masyarakat Lampung khususnya dan untuk dunia pada umumnya. Kini gunung yang sudah meletus itu sudah muncul kembali ke permukaan laut, Gunung Anak Krakatau (GAK) yang sampai saat ini masih aktif sebagai gunung merapi. Ahh, saya akan segera kesana dan menginjakkan kaki saya di gunung itu. Dulu pernah sekali mengikuti tour krakatau, namun kami dulu menaiki kapal Ferry dan tidak bisa berlabuh ke daratan Gunung Anak Krakatau. Untuk kali ini kami tidak menggunakan kapal ferry lagi karena panitia sudah menyiapkan beberapa kapal kecil agar bisa berlabuh disana.

Hari sabtu, 29 Agustus 2015 pukul 06.00 semua peserta harus sudah stand by di lapangan Korpri komplek gubernuran. Banyak sekali peserta yang ikut dalam tour ini. Namun dari segitu banyaknya peserta yang ikut, tak satupun yang aku kenal, lirik sana lirik sini, tetap banyak orang asing yang aku gak kenal sama sekali. Namun tiba-tiba..
Blogger yang akan melegenda juga  Mbak Donna dan Ibu Evi
"Mas, Hanung.. hai..," seseorang mamanggil saya. Kaget juga saya dengar sebutan itu, sepertinya kenal dengan suaranya dan ketika saya menoleh kearah mereka ternyata mereka adalah para alumni Festival Teluk Semaka 7 Tanggamus tahun lalu. Wahh syukurlah mereka masih kenal sama saya, hahaha
"Mas Hanung juga ikut nihh teman-teman, asyikk bisa reuni di Karakatau," Mbak Melly berkata kepada kawan-kawannya yang kala itu sudah berkumpul, Mas Halim, Mbak Donna, Ibu Evi, Mas Yopie dan seorang blogger yang saya belum pernah tau sebelumnya, Katerina.

Hanung adalah sebutan mereka ketika acara Festival Teluk Semak 7 Lalu di Tanggamus. Saya juga gak merasa mirip dengan sutradara kondang, Hanung Bramantyo itu. Jauhhh...... jauhh banget, saya di Lampung dan dia di Jawa sana, hehehe. Tapi yaa gak papa lah itu hanya panggilan yang memiliki ciri tentang identitas seseorang. kali-kali saja nasib saya pun bisa seperti Hanung Bromo, ehhh Bramantyo maksud saya.
Perjalanan kurang lebih 1 jam menuju Grand Elty Krakatoa di Kalianda dimana dari situlah kami akan menyebrang menuju Gunung Anak Krakatau. terbayang sudah 4 jam akan menuju Krakatau. Siap-siap saja obat anti mabuk laut.
Satu jam, dua jam berlalu sudah kapal melaju menuju Krakatau, “ahhh lama sekali sampainya. Saya melihat peserta ada yang sudah mengantuk dan para peserta yang tadinya berkicau bak burung merpati, kini perlahan-lahan meredup dan hanya deburan ombak saja yang terdengar dari sisi kanan dan kiri kapal.
Cagar Alam Krakatau
Hampir 4 jam perjalanan dan sampailah akhirnya ke Gunung Anak Krakatau. Agak merinding juga saat kaki mulai menginjakkan ke pasir hitam di lereng Krakatau. Panas... yaa memang saat itu sudah pukul 12.05 WIB. Hawa panas dari laut dan gersangnya Gunung Anak Kraktau mulai terasa menyengat. Alunan musik live tradisional menyambut kedatangan rombongan peserta tour disertai dengan atraksi pencak silat dari anak-anak kecil yang lincah.
Tidak ada panitia yang memberi arahan kepada peserta tour untuk kegiatan selanjutnya. Tour Leader nya pun tidak memberikan instruksi kepada peserta tentang apa yang harus dilakukan. Ya memang kalaupun tujuan kita k gunung sudah pasti kita akan mendaki, namun karena tidak ada aba-aba yasudah lah satu persatu kami mulai mendaki Krakatau. Letihh.. Panas... Gerahh..

Bisa dibayangkan betapa panasnya mendaki Gunung Anak Krakatau di siang bolong tanpa ada pepohonan di kanan dan kiri. Debu dan tanah hitam panas begitu membuat nafas sesak. Para peserta mulai berfoto-foto dan bervideo ria saat mendaki. Saya menatap sekeliling gunung, tak ada pepohonan tumbuh semuanya bebatuan dan tanah hitam yang panas. Saya sudah tidak sanggup lagi untuk mendaki sampai puncak. Serasa badan begitu letih bagaikan di padang pasir yang panas dan terik. “Ahh lebih baik turun saja dari pada menyusahkan orang kalau seandainya saya pingsan”. Aku melihat kawan-kawanku dengan bangganya bisa mengibarkan bendera merah putih di puncak Krakatau, Wagito, Eltra dan hampir setengah peserta bisa mencapai puncak. “biarlah, setidaknya saya sudah menginjakkan kaki di Krakatau, sang legenda dunia itu.
Bisa kibarkan bendera meski tak sampai puncak
Para peserta yang sudah sampai di puncak satu persatu mereka turun. Namun beberapa dari mereka mengeluh karena sepatu-sepatu mereka meleleh. Yaa, sepatu-sepatu yang tidak tahan dengan batu dan tanah yang panas akan meleleh. Matahari pun terus mengiringi kami dengan teriknya. Awan pun tidak berani mendampingi matahari seolah-olah ingin menunjukkan kehebatan dan kegersangan sang Krakatau. Saya menatap Krakatau sambil berkata dalam hati bahwa saya sudah kalah karena tidak bisa menaklukkannya hingga ke puncak, suatu saat saya pasti akan sampai puncak, bahkan puncak paling tinggi sekalipun.
Tidak ada aktivitas lain setelah turun dari Karakatau, para panitia dan tour guide sudah menginstruksikan segera menaiki kapal untuk kembali ke darat, Grand Elty Krakatoa dimana kami tadi mulai menaiki kapal. Mungkin untuk berkunjung ke Krakatau harus berangkat lebih pagi lagi atau bahkan bermalam disana agar bisa mengeksplor lebih lama lagi selain hanya mendaki. Sayang sekali jika perjalanan sudah memakan waktu 4 jam namun ketika sampai di Krakatau kita hanya diberi waktu kurang lebih 2 jam saja.
Perlahan kapal pun mulai meninggalkan Krakatau. Semua peserta sudah berada di kapal dan segera meninggalkan sang legenda itu. Saya menatap lama Krakatau sampai puncaknya terlihat mengecil dan jauh. Lelah sungguh terasa saat pendakian tadi. Terbayang akan perjalanan pulang yang membutuhkan waktu 4 jam lagi untuk sampai ke darat. Lautan luas masih tenang dengan riak ombaknya yang bersahabat. Matahari senja pun mengiringi perjalanan pulang kami dengan cahaya senjanya di ufuk cakrawala. Indah sekali…. 

Endorse T-Shirt K-hoet milik Eltra, lumayan dapet gratis

Diskusi program Festival Teluk Semaka di Krakatau, hehehe

Menunggu keberangkatan di Grand Elty Krakatoa

Bareng si Ikram, peserta unik dengan rambut nyentrik nya

Masih semangat mendaki....

....dan pada akhirnya, Eltra ambruk juga...


6 komentar:

  1. Issshhh, kak hanung ini tulisannya makin lama makin asik dibaca.
    Tentu saja kami masih ingat, inshaa Allah ketemu di manapun pasti di sapa. Btw aku ada temennya ya nggak sampe puncak hahaha. Panas di kaki sampe ngebul rasanya. Mungkin next time harus lebih pagi.
    Makasih ya mas, ada foto aku... lumayan numpang tenar hahahaha. Biar ikut kondaaaaaang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih tahap belajar Mbak, mengikuti jejak blogger seniorr nihh hehehe,,,, kebetulan ada fotonya itu mbk hahaha

      Hapus
  2. Yes! Tulisannya makin keren.
    Jadi ingat kita berteduh di bawah pohon, Kakak. Melly yang sedang pusing dan debu Krakatau yang berterbangan. Krakatau Indah dan ia tak ragu memperlihatkannya kepada kita :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betulll sekali bu.... lampung memang eksotis yaa hehehe

      Hapus
  3. Aaahhh. Iya. Masih kerasa sampe sekarang gimana sesaknya nafas waktu naik anak gunung krakatau. Hahaha. Tp seruuu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa pastinya Mbak Melly.... ayoo explore lampung lebih luas lagii

      Hapus