I AM AJNABEE

" Kerja sambil piknik ya itu sudah menjadi bagian dari saya. Tidak akan ada cerita tanpa adanya perjalanan.. karena bagi saya ada jalan ya ada cerita.. kalau gak jalan ya tidak ada cerita..Simpel dan tidak pakai ribet.. semua jalani saja.."

TRIP KE PESANGUAN, TRIP UNTUK PENANTANG SEJATI



Adem pemandangannya,, meskipun panas...


Ke Pesanguan?
Baru kali ini saya denger daerah itu di Tanggamus. Ahh,,, semoga tempatnya bagus lah karena biasanya tempat-tempat tersembunyi gitu ada sesuatu yang berbeda dengan yang lain. Iya memang beda siy, begini bedanya..

Indahnya Pesanguan...
Pesanguan adalah sebuah pekon (desa) yang ada di Kecamatan Pematang Sawa, Tanggamus. Kami mendapat undangan dari tim UNILA PILI (Universitas Lampung dan Pusat Informasi Lingkungan Indonesia) untuk berkunjung ke Pesanguan dimana tujuan kami kesana adalah untuk melihat potensi wisata yang ada disana dan juga bersilaturahmi dengan warga yang ada disana. Selain itu, mereka menginginkan untuk dibentuk Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) seperti halnya daerah lain di Tanggamus. Bersama tim dari bidang Pariwisata (Pak Marhasan Samba, Pak Elzhivago, Ibu Rohalyana, Wagito dan Dede Juniansyah) kami berangkat pukul 16.00 WIB pada hari senin, 19 Januari 2016. 

Saya sudah membayangkan bakal menjadi sebuah perjalanan yang menyenangkan karena berdasarkan informasi perjalanan akan melewati Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Banyak pemandangan indah dengan tebing-tebing tinggi dan pohon-pohon besar yang berumuran ratusan tahun. Amazing….
Kami melewati jalan pekon Sukaraja yaitu sebuah jalan yang masuk dari arah belakang Kantor TNBBS Sedayu. “Ahh,,, sudah jam 5 nihh, bakalan malam sampe disana,”Pikir saya. Bayangan saya untuk melihat pemandangan indah perlahan memudar, tinggal rasa takut yang menyelimuti.

Kita naik ojek trail kesana mengingat jalan yang cukup terjal dan berbukit-bukit, ojeknya sudah siap,”demikian kata Ibu Nani, kordinator dari UNILA PILI. Dan ketika sampai di lokasi memang beberapa ojek sudah menunggu kami dengan berbagai macam motor trail dan berbagai gaya para pengendaranya. Satu persatu kami menaiki ojek yang akan membawa kami menuju tempat yang sebelumnya sama sekali tidak pernah saya dengar, Pesanguan. 

Gayanya Mak Rohal sebelum rasa takutnya datang, hahaha
"Saya mau naik motor yang paling lambat jalannya," kata Pak Elzhivago. Mungkin Pak Vago akan lebih menikmati pemandangan pikir saya. Tapi entahlah, mau menikmati perjalanan atau memang Pak Vago ini memang kurang berani, hahaha. Mungkin ada faktor U yang mempengaruhinya.
Motor yang saya tumpangi perlahan mulai lincah menyusuri jalan-jalan berbatu-batu. Kanan kiri banyak pohon-pohon rindang dan besar. Di kejauhan saya melihat teluk semaka yang indah diantara tebing-tebing dan perbukitan. Mentari senja pun kelap-kelip menyinari dari balik pohon-pohon besar. Indah memang, untung saja cuaca cerah. “Katanya jalannya parah dan bikin sport jantung, ahh biasa aja ahh,”gumam saya dalam hati. Heboh amat tadi kalau jalannya terjal dan mengerikan. Tadi pun saat di jalan sempat bertemu Pak Subandri, Ketua POKDARWIS Sukaraja, dia pun berkata kalau jalannya luar biasa bikin jantungan. Hmm  mana… baik-baik saja kok…

Wagito in action...
Masih lama ya mas ?” Tanya saya sama mas ojeknya. “Masih setengah jam lagi Mas,”Jawabnya.
Eh mas, itu kenapa kok pohon-pohon pada rubuh dan tanahnya berantakan,” Saya bertanya sambil menunjuk ke sebelah kiri jalan yang berantakan. Banyak pohon-pohon tumbang dan daunnya seperti dilahap mahluk yang besar dan kelaparan. Ngeri amat..
Itu habis di makan kawanan gajah mas,”Jawab Mas ojek saya. “Semalam banyak gerombolan gajah yang menyerang perkebunan warga dan menyantap pohon-pohon di dalam kebun tadi, makanya kita jangan sampai kemalaman di jalan mas, takut ada gajah,” lanjutnya.

Jalan masuk ke hutan-hutan,, hayuk lahhh
DEGGHH…!!! Saya terkejut dan takut banget kalau sampai ada gajah liar dan tiba-tiba menyerang kami. Wahh.. kacau ini urusan. Sudah pukul 17.45 WIB, hari mulai perlahan-lahan gelap, perjalanan masih belum berakhir. Malah jalan semakin mengecil melewati turunan yang agak curam dan berbatu-batu. Jangan-jangan ini jalan yang dimaksud terjal dan bikin jantungan. Memang benar, jalanan ini lebih terjal dan curam. Ini lebih ekstrim dibanding yang sebelumnya. Sebelumnya saya masih bisa enjoy bareng kawan-kawan yang lain, Wagito, Mak Rohal (panggilan saya kepada Ibu Rohalyana), Pak Samba dan yang lainnya. Namun yang kali ini turunannya lebih tajam ditambah lagi motor yang saya tunggangi gak ada lampu dan rem belakangnya ngeblong kata Mas Ojeknya. Jadi hati-hati benar jalannya. Dalam hati memang gak putus sholawat dan istighfar. Gilaa kalau saya pulang cuma nama doang, hadooh (tepok jidat). Motor mulai menyebrangi sungai kecil yang licin kemudian menanjak.

Me and my ojek,,, hehehe
Licin, rodanya gundul,” kata Mas Ojek saya. Haish lahhh, kenapa pula malang bener nasib saya ini gerutu saya dalam hati. “Mas saya turun sajalah dari pada licin dan gak ketanjak,”Kata saya sambil turun dari motor. Sebel juga rasanya.. haduh hari sudah hampir gelap pula dan kami masih berada di tengah-tengah perkebunan asing begini. Haus dan tidak ada warung, apalagi IndoApril, IndoJuli, weleh mana ada…
Ayo mas naik lagi, harus pegangan lebih kuat ya.,”Ajak Mas Ojek ketika sudah berada di jalan yang aman. Saya naik berharap jalan sudah tidak licin lagi. Iya memang betul tidak licin, tetapi….
“..Masss,,, pegangan yang kencengg, kita mau nanjakkk,”teriak Mas ojek saya. Saya kaget bukan kepalang ketika tiba-tiba motornya ngebut dan nanjak bukit yang hampir 90 derajat sepertinya. Tanjakan yang Cuma setapak dengan jurang berada di sisi sebelah kanan dan mungkin juga sebelah kiri karena saya takut dan memejamkan mata sambil nahan nafas dan sholawat. Motor berjalan agak pelan karena tanjakan sudah tidak ada lagi. Namun ketika belok ke sebalah kiri ternyata tanjakannya lebih dahsyat dan tinggi.
Hati-hati masss…. Allahu Akbaaarrr…,”saya berteriak seolah-olah motor bakalan terbang dan masuk terjerembab ke dalam jurang yang paling dalam dan gelap. Motor tiba-tibaa oleng karena roda belakang menginjak kerikil dan kerikil itupun mental entah kemana. Saya makin kencang mencengkeram bahu mas ojek saya. Entah dia merasa kesakitan atau nggak. Tetapi motornya semakin kebut dan makin kuat aja saya mencengkeram bahunya. Lamaa sekali motor saya menanjak bukit ini seakan tidak berujung saja. Pohon-pohon ilalang di kiri dan kanan seakan-akan memberi semangat dengan lambaian daunnya. “Ayo van, jangan takut, kamu akan segera sampai di puncak”.

Sampai di puncak setelah tanjakan terjal, woww juraangg...
Benar saja, saya sudah sampai di puncak dengan nafas yang hampir habis. Saya melihat Wagito dan Dede sudah sampai di atas sampil tertawa melihat saya ketakutan. Pada dasarnya mereka juga takut siy, namun sudah sampai di puncak, jadi sudah sedikit lega. Wah, kemana Pak Kabid Samba, Bu Rohal dan yang lain?
Saya berlari ke ujung tanjakan dan melihat Mak Rohal jalan kaki. Waduhhhh…..?

Motor gua habis bensin, hufft sialan lahh,” Mak Rachel ngos-ngosan sambil nanjak bukit ini. Kasian juga ngeliatnya, tapi pingin ketawa juga kenapa pula bensin motor bisa sampe kehabisan lahh. Mak Rachel pelan-pelan menanjak keatas, sambil mengeluh. ”Sudah-sudah lagi lah gua kesini ini, kapok dah gak mau lagi,” ujarnya. Hihihi saya sebenarnya mau bilang ini adalah seni dari petualangan berwisata Mak, namun saya urungkan berkata begitu. Kondisi dia lagi kelelahan dan susah nafas, bisa bisa dilemparnya saya pake batu kerikil di tanjakan itu. Hahaha.. lucu, tegang dan menyenangkan memang perjalanan ini. Setelah semua sampai diatas, masing-masing mengutarakan perasaaan hatinya ketika menanjaki bukit.

“Dulu motor yang saya naiki gak ketanjak dan pada akhirnya motor terguling termasuk saya juga ikut terguling-guling dan tertimpa motor, kebetulan yang bawa motor adalah Mas Jhon” cerita Ibu Nani, koordinator dari UNILA PILI sambil melihat kearah Mas Jhon. Mas Jhon adalah fasilitator di lapangan yang selalu mendampingi Ibu Nani. Wah memang luar biasa sekali perjuangan Ibu Nani dan tim nya dalam rangka menjalankan tugasnya.
Sampai di puncak... legaa dan lemes hehehe
Setelah melepas lelah, kami semua melanjutkan perjalanan. “Masih ada tanjakan gini lagi gak mas?”Tanya saya sama mas ojek. “Sudah gak ada lagi mas, tenang aja,” Jawab mas ojek saya sambil tersenyum. Syukurlahhh..

Saya sudah tidak memikirkan bagaimana jalan pulang lagi, yang penting sampai dulu di lokasi. Memang mengasyikkan perjalanan ini bagi pecinta petualang alam dengan segala tantangannya karena ini adalah salah satu wisata minat khusus. Dede Juniansyah salah satu rekan kantor saya pun menyenangi tantangan ini termasuk Wagito juga, seru, seruuu banget kata mereka. Yahh maklumlah masih anak muda dan bujang, lah saya…. Hmmm tergantung.
Masih sempet liat beginian meskipun perjalanan menegangkan
Tanpa terasa kamipun sampai di rumah Pak Kepala Dusun yang akan kami gunakan untuk homestay. Memang rumahnya pun sudah dipakai untuk homestay. Tempatnya cukup sederhana namun fasilitas cukup memadai seperti kamar tidur, kamar mandi meskipun kamar mandi berada di luar rumah namun terdapat 3 kamar mandi yang bisa dipakai untuk beberapa orang tanpa harus lama mengantri. Saya melihat Pak ELzhivago ternyata sudah sampai daritadi dan sudah santai di homestay. Minuman teh hangat dan kopi sudah tersedia oleh tuan rumah. Nikmat sekali cuaca malam yang dingin gini menyeruput kopi khas Tanggamus.

Kumpul bareng warga.. Pak Vago dah ngantuk tuhh
Acara malam hari adalah berdiskusi dengan kelompok masyarakat di salah satu rumah warga di belakang homestay. Banyak masyarakat sudah berkumpul demi terwujudnya sebuah desa wisata di Pesanguan yang memiliki potensi alam yang luar biasa. Mereka sangat menginginkan daerah mereka mendapat perhatian dari pemerintah agar Pesanguan pun bisa besaing dengan daerah lain dalam sector pariwisatanya. Diskusi yang dipimpin oleh Ibu Nani dari UNILA PILI dan kru nya ini cukup membuka wawasan masyarakat tentang bagaimana membentuk suatu objek wisata yang nantinya akan menjadi salah satu destinasi yang bisa diprioritaskan kedepannya. Pengarahan dan penjelasan dari Bapak Marhasan Samba dan Bapak Elzhivago benar-benar membuat masyarakat makin semangat untuk menjadikan Pesanguan sebagai objek wisata. Saya sangat menghargai akan kegigihan dan niat masyarakat untuk mewujudkan itu. Semoga saja bisa terwujud…
Hari pun semakin malam, suara kambing, jangkrik dan serangga malam semakin keras terdengar. Saya sudah menguap berkali-kali. Badan sudah mulai lelah terbayang kasur dan selimut tebal untuk menghalau rasa dingin. Saya mengingat akan perjalanan ke tempat ini sejak dari berangkat tadi hingga saya terbaring. Masih terasa guncangan motor ketika mendaki bukit dengan mulut jurang menganga lebar dan licin. Ahh bagaimana dengan perjalanan pulang besok ya?

Pusat Listrik Tenaga Surya Pesanguan
Endorse Ajnabeezone, tetep lah yaaa

Perjalanan pulang lewat Way Nipah

Dari belakang homestay

Wow... bangett kannn

Sepanjang jalan kenangan

Bareng Bapake Kabid, Marhasan Samba...



5 komentar:

  1. Lebih seru kalau peluk abang ojeknya :D

    BalasHapus
  2. waahhh mas yopie... hahaha gak mauuu dahhh...

    BalasHapus
  3. Kok kayaknya saya faham.ya tempat ini hahahhahahajahahaπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
  4. mas, saya bisa minta contact gk? saya ada rencana mau k kab tersebut.

    ayuoktama@gmail.com

    BalasHapus