I AM AJNABEE

" Kerja sambil piknik ya itu sudah menjadi bagian dari saya. Tidak akan ada cerita tanpa adanya perjalanan.. karena bagi saya ada jalan ya ada cerita.. kalau gak jalan ya tidak ada cerita..Simpel dan tidak pakai ribet.. semua jalani saja.."

PESONA AIR TERJUN TAPUSAN (LAMURAN) KOTA AGUNG


Van, rencana mau eksplore Tanggamus niy hari Minggu, ada referensi yang bagus gak?” Mas Yopie Pangkey dari @KelilingLampung mengirim WA kepada saya pada sabtu sore.
Wah Keliling Lampung mau jalan-jalan ke Tanggamus bersama keluarganya yang notabene aktif dalam media sosial dan blog itu, wow kecee nih...
Ada beberapa referensi lokasi wisata yang sudah saya berikan kepada Mas Yopie. Dan tentunya itu adalah lokasi-lokasi yang memang pantas untuk dieksplore. Bakalan seru pastinya...
 
Pukul 06.00 saya sudah sampai ke rumah Mas Yopie karena memang kita harus berangkat pagi-pagi sekali. Keempat anak Mas Yopie dan seorang istri yang selalu mendampinginya sudah siap dengan segala sesuatunya. Cuaca sangat cerah dan petualangan seru akan segera dimulai... go..go Majestic Tanggamus.
Tujuan pertama dalam perjalanan ini adalah Pantai Karang Bolong. Sudah pada tahu kan Pantai Karang Bolong yang sebelumnya sudah saya tulis dalam blog saya. Letaknya memang tidak susah untuk mencapai lokasi ini, hanya sekitar 40 menit saja dari simpang Taman Makam Pahlawan, Kota Agung. Pemandangan pantai yang indah disisi sebelah kanan jalan membuat decak kagum yang tiada henti. Rasanya pingin turun dan selalu berfoto di setiap sudut pantai yang indah, namun kami harus hemat waktu mengingat akan ada tempat lain yang akan dikunjungi nanti. 

Di Pantai Karbol alias karang bolong...
Kurang lebih pukul 10.00 sampailah kami di Pantai Karang Bolong. Hari itu air laut sedang pasang dan gemuruh suara ombak begitu besar. Kami tidak bisa menyentuh air laut. Ombak saling susul-menyusul bergumul pecah ke tepian pantai. Sebenarnya ingin sekali menyentuh karang bolong sambil berfoto di atas nya, namun air sedang pasang. Agak sedikit sulit untuk mencapainya sehingga kami hanya berfoto-foto ria saja dengan latar karang bolong. Puas sudah melihat kekokohan karang bolong yang berdiri tegak ditepi pantai. Ibarat sebuah filosofi hidup, kita harus kuat setegar karang yang kokoh, dia tidak akan goyah meskipun ombak dan badai menerjang. Begitu juga dengan kita berbagai masalah hidup pastinya selalu menghampiri kita, namun kita harus kuat menghadapi semua itu. 


Selesai mengambil dokumentasi di karang bolong. Perjalanan kami lanjutkan menuju Dermaga Batu Balai. Sebuah dermaga di kawasan Industri Maritim ini memang sangat pas dan bagus untuk berfoto ria dengan berlatarkan pemandangan laut nan biru dan keindahan gunung Tanggamus yang menjulang tinggi. Memang cuaca sangat panas ditengah hari yang terik ini. Banyak orang yang mancing ikan dengan menggunakan topi lebar. Ada satu yang unik dari orang yang sedang memancing waktu itu. Mereka menjejerkan dua buah sepeda motor lalu mereka mengikatkan sebuah kain lebar diatas kedua sepeda motor itu dan mereka berteduh dibawahnya sambil mancing. (ahaa... kenapa gak pasang tarub aja mas, hehe)

AIr Terjun Tapusan 1
Terik yang menyengat membuat kami tidak bisa berlama-lama di Dermaga. Kami segera memutuskan untuk mengunjungi destinasi berikutnya yaitu Air Terjun Tapusan di Lamuran Kota Agung. Meskipun sudah lama tahu akan keberadaan air terjun ini, saya belum sempat mengunjungi sama sekali. Bersyukur sekali sekarang ini benar-benar bisa ke air terjun yang tidak kalah indahnya dengan beberapa air terjun lain. Saya sebelumnya sudah menghubungi Abang Sudibyo, selaku pengelola air terjun Tapusan ini. Maklum saja kami belum begitu faham dengan lokasi air terjun ini. Setelah diarahkan via handphone, akhirnya sampailah kami ke Pekon (Desa) Teratas, pedukuhan Lamuran yang sebelumnya sempat salah jalan. Cukup mudah sebenarnya menuju Pekon Teratas ini. Masuk saja lewat Islamic Center Kota Agung lurus terus meskipun sudah lewat jalur dua Islamic Center. Setelah itu ikuti jalan ke kiri kemudian ada pertigaan belok ke kanan ikuti jalan menanjak kira-kira dua kilo meter. Kemudian belok ke kiri menuju pedukuhan Lamuran. Hati-hati jika membawa kendaraan roda empat, jalanan begitu sempit dan susah jika ada mobil yang kebetulan dari arah yang berlawanan. Jalan berliku-liku memasuki perkebunan kakao. Waktu membutuhkan lima menit saja untuk sampai di pekon Lamuran. 

Kami Parkir mobil di salah satu rumah di depan masjid. Kebetulan waktu itu sedang ada hajatan, jadi suasanan sangat ramai. Kami disambut oleh Kepala Pekon (Bp. Kalamudin), Sekretaris Desa (Mat Nasruddin), Ketua Karang Taruna (Solihin), Ketua RT (Bp. Suem), Bang Oman dan beberapa orang yang berpengaruh di Lamuran. (sudah seperti pejabat saja disambut rame-rame, jadi enak hehe). Tidak berlama-lama berbincang-bincang dengan mereka, kami pun segera menuju air terjun Tapusan.

Sang @KelilingLampung dengan kedua putrinya
Akses menuju air terjun memang sudah bagus. Jalanan sudah dicor. Sebenarnya sepeda motor sudah bisa masuk, namun kami berjalan kaki beramai-ramai kurang lebih satu kilo. Satu kilo meter bukanlah perjalanan yang panjang, hanya dengan waktu 15 menit saja dengan menuruni perbukitan yang sejuk. Jalanan tidak terlalu terjal dan menukik, karena dibuat sedikit memutar dan mengitari bukit. Cukup aman dan kaki tidak terlalu pegal. Aliran air dari air terjun sudah terlihat lewat sungai kecil yang kami seberangi. Airnya jernih sekali mengalir disela-sela bebatuan kali yang hitam dan bersih. Terbayang pasti air terjunnya bakalan bersih dan segar. Dan benar saja, setelah sampai di air terjun, kami sangat terpukau. Airnya jatuh dan mengalir lewat tebing bebatuan. Tidak begitu tinggi namun alirannya begitu indah dan jernih sekali. Banyak anak-anak yang sedang mandi di bawah air terjun. Saya sudah bisa merasakan betapa segarnya berendam dibawah air terjun itu, namun saya tidak membawa celana dobel. Alhasil saya hanya merendamkan kaki saja sambil mupeng melihat orang-orang pada mandi. 

Air Terjun Tapusan 2
Tidak jauh dari air terjun ini, ada juga air terjun lagi yang agak sedikit lebih tinggi dan jaraknya pun hanya 30 meter saja. Lebih kecil namun lebih tinggi dari air terjun pertama. Alirannya masih sama yaitu melalui tebing bebatuan yang kokoh. Jernihnya pun sama akan tetapi airnya tidak terbendung seperti kolam dibawahnya seperti air terjun yang pertama. Jika di air terjun pertama kita bisa berendam di bawah air terjun, tapi di air terjun yang kedua ini tidak bisa berendam. Karena airnya langsung mengalir ke sungai melewati rerumputan dan bebatuan. 

Diantara kedua air terjun ini tepatnya didekat air terjun yang pertama, ada aliran air rintik-rintik melalui dedaunan hijau yang tumbuh ditebing bebatuan, namanya mancrit. Mancrit? Iyaa betul mancrit. Sebenarnya aneh sekali dengan namanya. Saya bertanya kepada bang Sudibyo selalu pengelola mengapa namanya mancrit. Menurutnya karena alirannya kecil-kecil dan banyak berjatuhan diantara dedaunan. “Kalau alirannya besar itu namanya mancur, sedangkan kalau kecil-kecil begini namanya mancrit,” jelasnya. Saya tertawa lebar mendengar penjelasannya yang entah masuk diakal atau tidak. Bagi saya yang penting unik dan dapat membuat  orang jadi ingat terus, seperti saya ini. 

Makan siang dengan lauk ikan nibung bakar, sambal, sayur asam dan lalapan menjadi sangat nikmat saat disantap di dekat air terjun ini. Serasa pingin nambah lagi dan lagi, tapi perut sudah offside dan gak muat lagi. pengunjung anak-anak dan remaja mulai banyak yang berdatangan karena memang aksesnya mudah dijangkau. 

Mancrit..
Ini baru mantab van air terjunnya,” kata Mas Yopie.” bentuknya sederhana namun bisa membuat betah dan berlama-lama disini,’ lanjutnya. Wah jadi senang juga nih kalau seorang akun besar @kelilinglampung sudah bicara seperti itu. Memang betul, saya memperhatikan anak-anak dari Mas Yopie ini nampak senang dan gembira berenang dibawah sejuknya air terjun ini. Menurut Mbak Rahmawati, istri Mas Yopie ini bahwa jalan-jalan ini adalah hadiah dalam rangka merayakan ulang tahun anaknya yang kedua, Darrel.  Si kalem yang jago main rubik. Oh pantas saja.. tapi menurut saya tidak sesuatu yang menandakan bahwa ini adalah sebuah perayaan ulang tahun. Saya berfikir akan ada kue tart atau apalah yang bisa jadi simbol perayaan ultahnya ini (mungkin sudah kali ya di rumahnya, hehe).  Kalau saja bisa meniup lilin dan bawa kue tart di air terjun ini pastinya bakalan seru dan jadi moment paling tidak terlupakan kali ya. Atau memang anaknya yang tidak mau, ahh entahlah.. kenapa jadi saya yang galau.. hehe

Air terjun Tapusan, Lamuran Kota Agung memberikan jawaban akan lelahnya perjalanan. Gemericik airnya menenangkan jiwa dan letaknya di sudut perbukitan yang sejuk membawa kedamaian dalam hati. Sebuah catatan perjalanan yang akan membuat setiap orang berpikir bahwa hidup bagaikan air  mengalir yang akan membawa kesejukan bagi setiap orang. Biarkan batu menghalangi aliran air namun jangan berhenti mengalir. 

Saya kemudian berlari kencang mendaki bukit  saat  perjalanan pulang. Saya menunjukkan bahwa berlari pun bisa cepat sampai dengan akses yang tidak susah ini. Namun... saya gagal. 










4 komentar:

  1. Ternyata banyak permata dari Tanggamus yang belum terungkap. Jadi makin cinta Lampung :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayooo bu k tanggamus lagi... tak perlu nunggu festival dahh.. hehe

      Hapus
  2. Pokoknya ga pernah kapok jalan-jalan di Tanggamus. Apalagi orang2 dinas pariwisatanya asik2 :D

    BalasHapus
  3. Kapan lagi kita jalan-jalan explore air terjun di Tanggamus?
    Sesekali ajak istri juga ya bang bareng kami.

    BalasHapus